Apa Perbedaan Investasi dan Trading di Pasar Modal?

Dalam transaksi di pasar modal, terutama pasar saham, ada dua strategi yang umum digunakan yaitu investasi dan trading. Lantas apa perbedaan investasi dan trading? Bagaimana risikonya? Simak ulasan berikut.

Muhammad Fikri

Jun 16, 2024 - 11:00 AM

Data

Dalam dunia pasar modal, terdapat dua strategi yang biasanya digunakan oleh pelaku pasar, yaitu investasi dan trading. Meskipun keduanya bertujuan untuk menghasilkan keuntungan, namun terdapat perbedaan dalam cara kerja, tujuan, dan strategi yang digunakan. Berikut adalah penjelasan investasi dan trading.

Definisi

Dilansir dari Investopedia, investasi adalah kegiatan membeli dan menyimpan sebuah instrumen dengan tujuan membangun kekayaan secara perlahan, melalui kenaikan harga atau apresiasi nilai aset (modal) serta dividen atau bunga yang diakumulasikan selama masa investasi. 

Adapun, dirangkum dari Pluang, trading merujuk pada kegiatan membeli dan menjual aset keuangan seperti saham, mata uang asing (forex), atau komoditas untuk mendapatkan keuntungan dari fluktuasi harga.

(Baca: (Laporan) Data IHSG, Penggerak hingga Rincian Transaksi Perdagangan Saham Mei 2024)

Jangka Waktu

Investasi cenderung fokus untuk menyimpan dalam jangka panjang. Adapun, investasi pada umumnya memiliki jangka waktu di atas 1 tahun bahkan hingga seumur hidup.

Sementara trading fokus dalam jangka pendek. Para trader pada umumnya menggunakan jangka waktu mingguan, harian, jam, bahkan menit untuk menyimpan sebuah instrumen trading

Metode Analisis

Investasi menjadikan fundamental seperti kinerja keuangan, valuasi, dan rasio sebagai dasar pengambilan keputusan. Investor biasanya melakukan analisa fundamental untuk menilai nilai intrinsik dan valuasi dari perusahaan yang akan diinvestasikan. 

Selain itu, investor juga memperhatikan faktor-faktor eksternal seperti kondisi industri, tren ekonomi, dan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.

Adapun, trading secara umum terdapat beberapa metode analisis. Dilansir dari MNC Sekuritas diantara metode analisis dalam trading adalah Buy on Weakness (BoW), yaitu membeli saham yang dilakukan ketika sebuah saham turun hingga level tertentu. 

Kemudian Buy on Breakout (BoB). Mengutip OJK, BoB adalah membeli saham ketika sebuah saham berhasil menembus level resistance tertentu. Terakhir Buy on Retracement (BoR), yaitu membeli saham ketika kembali ke sekitar bekas area breakout-nya.

Strategi

Strategi investasi adalah buy and hold. Investor membeli dan menyimpan aset dalam jangka panjang. Selain itu dalam investasi terdapat beberapa strategi tambahan, diantaranya Dollar Cost Averaging (DCA) dan diversifikasi. Merangkum dari Investopedia, DCA adalah strategi  membeli saham dengan nominal yang sama dalam rentang waktu tertentu secara rutin. Istilah umumnya adalah nabung saham.

Kemudian diversifikasi. Mengutip Bareksa, diversifikasi adalah strategi investasi dengan meletakkan investasi pada berbagai jenis instrumen investasi untuk tujuan mengurangi risiko.

Adapun, dalam trading secara umum beberapa jenis strategi. Pertama, Position Trader dengan jangka waktu 1 bulan hingga 1 tahun. Kedua, Swing Trader dengan jangka waktu 1 hari hingga 1 minggu. Selanjutnya Day Trader dengan jangka waktu tidak lebih dari 1 hari. Terakhir ada Scalping dengan jangka waktu beberapa menit bahkan detik.

(Baca: (Laporan) Adu Moncer BREN dan AMMN Sejak IPO hingga Komposisi Pemegang Saham per Juni 2024)

Potensi Keuntungan

Dalam investasi, potensi keuntungan yang didapatkan berasal dari pertambahan nilai saham atau aset lain yang sedang diinvestasikan, disebut sebagai capital gain. Disisi lain investasi juga berpotensi mendapatkan dividen atau bagi hasil, yang disebut sebagai dividend gain.

Sementara dalam trading, keuntungan yang didapatkan hanya berasal dari selisih antara harga beli dan harga jual atau capital gain.

Risiko

Adapun, investasi juga memiliki risiko yang signifikan, termasuk risiko capital loss, yaitu potensi kerugian ketika harga jual aset lebih rendah dari harga beli, risiko kebangkrutan emiten jika perusahaan yang diinvestasikan mengalami kebangkrutan, dan risiko likuiditas di mana investor kesulitan menjual aset dengan cepat.

Sama seperti investasi, trading juga memiliki risiko. Pertama, risiko pasar, di mana harga aset dapat bergerak tidak sesuai dengan prediksi trader. Kedua, risiko timing yang terjadi ketika trader tidak dapat menentukan waktu yang tepat untuk masuk dan keluar dari pasar. Ketiga, risiko emosional di mana emosi seperti ketakutan dan keserakahan dapat mempengaruhi keputusan trading yang sering kali mengakibatkan kerugian.

(Baca: 8 Emiten dengan Dividen Interim Tertinggi Sepanjang 2023)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags