Harga Gandum Berbalik Naik, Pasar Cermati Pernyataan Putin

Harga gandum berbalik menguat tajam 1,11% ke level US$866,40/gantang (bushel) pada pukul 07.50 WIB, setelah dua hari terkoreksi.

Gita Arwana Cakti

Sep 13, 2022 - 8:30 AM

Data

Harga gandum berbalik menguat ke zona hijau pada perdagangan Selasa (6/9), setelah terkoreksi dua hari beruntun. Harga gandum berjangka untuk kontrak Desember 2022 di Chigaco Board of Trade (CBOT) melejit 1,11% ke level US$866,40/gantang (bushel) pada pukul 07.50 WIB.  

Harga gandum meningkat setelah bergerak di rentang US$856,38/gantang hingga US$866,40/gantang. Penguatan ini terjadi setelah harga gandum melemah 1,45% dalam dua hari perdagangan yakni 11-12 September 2022. Namun, pelemahan terjadi setelah harga gandum melonjak 4,89% pada perdagangan 9 September 2022.

Jika melihat pergerakan harga sepanjang tahun berjalan, maka komoditas biji-bijian itu meningkat 12,41%. Harga gandum juga telah melonjak 28,34% dalam setahun terakhir. 

Lonjakan harga gandum sempat terjadi di tengah pasar menyoroti perkembangan kesepakatan dagang Antara Rusia dan Ukraina yang dikritik Presiden Vladimir Putin belum lama ini. Putin mengkritik kesepakatan dagangnya dengan Ukraina, yang ditengahi oleh Turki dan PBB. Kesepakatan tersebut sebelumnya diteken pada Juli dan memberi jaminan keamanan bagi pergerakan komoditas pangan di sepanjang koridor Laut Hitam.

Putin menilai koridor pengiriman pangan Ukraina tidak membantu menopang pasokan ke negara-negara miskin, karena sebagian besarnya dikirim ke Eropa. Pergerakan harga gandum pun dinilai langsung bereaksi atas pernyataan tersebut. Hal itu membuktikan bahwa pasar tetap sensitif terhadap sinyal politis apa pun pada 120 hari awal pelaksanaan perjanjian tersebut.

Adapun, berdasarkan data PBB, lebih dari 2 juta ton biji-bijian dan bahan pangan lainnya telah dikirim dari pelabuhan Ukraina sejak awal Agustus. Jumlah tersebut termasuk kargo yang baru-baru ini berlayar ke Turki, Spanyol, China, Italia, dan Somalia.

Sementara itu salah satu negara pengekspor gandum terbesar dunia, Australia, akan mengalami panen raya pada musim ini. Hal itu diperkirakan meningkatkan pendapatan ekspor pertanian hampir 50% dari satu dekade lalu.

Pemerintah setempat memperkirakan pada musim 2022-2023, petani Australia akan memanen total 32,2 juta ton gandum. Perkiraan tersebut naik 6,3% dari sebelumnya karena kondisi cuaca yang menguntungkan selama musim dingin mendukung prospek panen.

Perkembangan tersebut pun memberi sedikit kelegaan pada pasar komoditas dunia yang masih diliputi ketidakpastian akibat perang Rusia-Ukraina, cuaca ekstrem yang merusak panen di beberapa bagian Eropa, Amerika Serikat, dan China.

(Baca: Australia Perbarui Perkiraan Panen, Harga Gandum Kembali Naik)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags