Harga Minyak Pekanan Lanjutkan Pelemahan (2 – 9 Juni 2023)

Harga minyak dunia bergerak melemah selama sepekan terakhir, melanjutkan penurunan pekan sebelumnya. Hingga perdagangan Jumat (9/6) petang, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange pukul 15.05 WIB bergerak di level US$71,11 per barel.

Winarni

Jun 9, 2023 - 3:19 PM

Data

Harga minyak dunia bergerak melemah selama sepekan terakhir, melanjutkan penurunan pekan sebelumnya. Hingga perdagangan Jumat (9/6) petang, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange pukul 15.05 WIB bergerak di level US$71,11 per barel. 

Nilai tersebut lebih rendah 0,09% dibandingkan dengan harga pekan sebelumnya yang senilai US$71,74 per barel. Sementara itu, harga Brent di ICE Futures Europe menurun 0,05% menjadi US$75,75 per barel lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir pekan sebelumnya US$76,13 per barel. 

Harga minyak sempat menguat di awal pekan dipicu oleh janji eksportir global utama Arab Saudi untuk memangkas produksi sebesar 1 juta barel per hari mulai Juli mendatang. Kementerian Energi Saudi mengatakan output kerajaan akan berkurang menjadi 9 juta barel per hari (bpd) pada Juli dari sekitar 10 juta bpd pada Mei. Pemangkasan tersebut merupakan yang terbesar di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir. 

Namun, sentimen pendorong tersebut dikalahkan oleh kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global terutama dari China dan Amerika Serikat, yang akhirnya membebani pergerakan harga minyak dalam sepekan terakhir. 

Hal itu menyusul rilis data ekonomi terbaru kedua negara yang merupakan konsumen minyak utama dunia tersebut yang mengarah pada perlambatan. 

Selain itu, data dari American Petroleum Institute menunjukan persediaan bensin AS naik sekitar 2,4 juta barel dan persediaan sulingan naik sekitar 4,5 juta barel dalam pekan yang berakhir 2 Juni.

Penumpukan cadangan bahan bakar yang tak terduga ini menimbulkan kekhawatiran atas konsumsi oleh pengguna minyak utama dunia tersebut. 

Di sisi lain, melemahnya data ekonomi China juga masih menjadi pemberat harga, di mana nilai ekspor China menyusut 7,5%, lebih besar dari yang diperkirakan sebesar 0,4%. 

Saat ini, pelaku pasar juga sedang menanti arah kebijakan Federal Reserve AS terhadap suku bunga acuannya. Apakah bank sentral AS itu akan menaikkan atau mempertahankan suku bunga acuan pada rapat kebijakan bulan ini.

(Baca: Pemulihan China Mengecewakan, Harga Minyak Mentah Tertekan)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags