Harga Nikel Terbebani Kenaikan Pasokan, Rencana UE Ikut Disorot

Harga nikel melemah pada penutupan perdagangan Kamis (19/5). Tercatat, harga nikel di London Metal Exchange (LME) turun 1,88% ke level US$20,932,50/ton pada penutupan perdagangan kemarin.

Gita Arwana Cakti

May 19, 2023 - 9:39 AM

Data

Harga nikel melemah pada penutupan perdagangan Kamis (19/5). Tercatat, harga nikel di London Metal Exchange (LME) turun 1,88% ke level US$20,932,50/ton pada penutupan perdagangan kemarin.

Harga nikel melemah setelah bergerak di rentang US$20.919,00/ton-US$21.415,50/ton. Adapun, pelemahan tersebut terjadi setelah harga nikel sempat naik 1% pada perdagangan sebelumnya.

Jika melihat pergerakan sepanjang tahun berjalan, harga nikel tercatat anjlok 30,82%. Harga komoditas pertambangan tersebut juga terpantau merosot 19,98% dalam satu tahun terakhir.

Di China, pergerakan harga nikel juga melaju di kisaran rendah. Mengutip Shanghai Metal Market, harga nikel tetap bergerak rendah karena perdagangan dilakukan di tengah resesi ekonomi sementara jumlah pasokan terus meningkat.

Selain itu, pelemahan harga nikel secara global juga terjadi di tengah rencana Uni Eropa untuk memenuhi target ambisius dalam rangka mengurangi ketergantungannya pada China dan negara-negara lain untuk bahan-bahan penting dengan pembiayaan yang ditingkatkan secara cepat dan perizinan yang dipercepat.

Mengutip Reuters, di bawah Undang-Undang Bahan Baku Kritis UE, yang belum berlaku, blok tersebut telah menetapkan target 2030 untuk mineral yang dibutuhkan dalam rangka transisi hijaunya - 10% dari kebutuhan tahunan di tambang, 15% didaur ulang, dan 40% diproses di Eropa.

Adapun permintaan 34 bahan baku termasuk tembaga, nikel dan logam tanah cukup jarang diprediksi akan meningkat tajam. Namun, Komisi Eropa memperkirakan bahwa UE akan membutuhkan lithium 18 kali lebih banyak pada 2030 dibandingkan pada 2020 dan kobalt lima kali lebih banyak.

(Baca: Pasar China Masih Sepi, Harga Nikel Melemah)

Di sisi lain, London Metal Exchange (LME) juga dikabarkan berencana meminta perusahaan gudang untuk melakukan pemeriksaan tambahan pada stok nikel yang dijamin menyusul penyimpangan awal tahun ini.

Tes tersebut termasuk menggunakan magnet dan detektor logam, serta "pemeriksaan sentuh" yang melibatkan pekerja gudang yang meraba bagian luar tas untuk memverifikasi bahwa bahan di dalamnya memiliki ukuran dan bentuk yang sesuai. Bursa juga meminta gudang untuk menimbang kantong nikel saat dikirim keluar dari sistem LME.

Sementara itu, Indonesia juga berkeinginan untuk meningkatkan daya tawar komoditas mineralnya di pasar global melalui pengendalian ekspor dan pembentukan indeks harga. Mengutip Bisnis.com, besarnya ceruk pasar mineral Indonesia dalam supply dan demand global membuat Tanah Air memiliki kans untuk menjadi price maker atau penentu harga mineral global.

BUMN Holding Industri Pertambangan atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) pun mengusulkan adanya pengaturan volume ekspor mineral kritis dalam negeri melalui skema satu pintu. Usulan tersebut disampaikan ke pemerintah agar volume ekspor dari Indonesia dapat terkontrol sehingga mencegah kelebihan pasokan yang dapat membuat harga jatuh di pasar global.  

SVP Corporate Secretary MIND ID Heri Yusuf juga mengatakan dengan pola tersebut diharapkan dapat meningkatkan harga komoditas mineral dari Indonesia seperti nikel, bauksit, timah, dan tembaga sehingga dapat memberikan kontribusi pendapatan negara yang optimal.

(Baca: (Laporan) Mengalap Berkah Nikel Indonesia)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags