Hasil Panen Ukraina Cenderung Turun, Harga Gandum Berbalik Naik

Harga gandum berbalik menguat, setelah ditutup melemah tajam dua hari perdagangan beruntun pada akhir pekan lalu. Penguatan harga gandum terjadi di tengah potensi penurunan produksi di Ukraina

Gita Arwana Cakti

Sep 26, 2022 - 8:30 AM

Data

Harga gandum berbalik menguat ke zona hijau pada perdagangan Senin (26/9), setelah ditutup melemah tajam dua hari perdagangan beruntun pada akhir pekan lalu. Harga gandum berjangka untuk kontrak Desember 2022 di Chigaco Board of Trade (CBOT) naik 0,73% ke level US$885,30/gantang (bushel) pada pukul 07.50 WIB.  

Harga gandum meningkat setelah bergerak di rentang US$878,75/gantang hingga US$890,50/gantang. Penguatan ini terjadi setelah harga gandum ditutup terkoreksi hingga 3,5% pada perdagangan 23-25 September 2022.

Jika melihat pergerakan harga sepanjang tahun berjalan, maka komoditas biji-bijian itu meningkat 14,86%. Harga gandum juga masih melonjak 22,06% dalam setahun terakhir. 

Kenaikan harga gandum terjadi di tengah potensi penurunan hasil produksi biji-bijian di Ukraina, mengingat pertanian negara tersebut mulai memasuki masa panen komoditas biji-bijian seperti gandum dan jagung.

Mengutip Reuters, Kementerian Pertanian Ukraina pada Jumat lalu mengungkapkan negaranya mulai panen jagung 2022 sebanyak 92.200 ton dari 0,5% area yang ditabur. Adapun hasil panen jagung mencapai 4,41 ton per hektar.

Kementerian pun mengatakan Ukraina berpotensi memanen 25 juta ton hingga 27 juta ton jagung pada tahun ini. Namun jumlah tersebut turun dibandingkan dengan hasil panen 2021 sebanyak 42,1 juta ton.

Sementara itu, petani Ukraina juga telah memanen total 26,1 juta ton gabah dari 61% dari area yang ditabur pada 23 September lalu dengan hasil gabah rata-rata mencapai 3,84 ton per hektar. Adapun untuk panen gandum telah selesai dilakukan untuk periode tahun ini dengan output 19,2 juta ton dalam berat bunker dan hasil 4,1 ton per hektar.

Seperti diketahui, Ukraina merupakan produsen dan pengekspor biji-bijian global utama. Namun, pada tahun ini jumlah produksi berpotensi turun signifikan menjadi sekitar 50 juta ton dari rekor 86 juta ton pada tahun lalu. Penurunan hasil panen tersebut tak terlepas dari invasi Rusia ke negara tersebut.

Sebelumnya, pasar sempat menyoroti perkembangan kesepakatan dagang Antara Rusia dan Ukraina yang dikritik Presiden Vladimir Putin. 

Dia menilai koridor pengiriman pangan Ukraina tidak membantu menopang pasokan ke negara-negara miskin, karena sebagian besarnya dikirim ke Eropa.

(Baca: Harga Gandum Menguat, Kapal Ketiga PBB Berangkat ke Etiopia)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags