Masih Berharap Pemulihan Permintaan China, Harga Tembaga Menguat

Harga tembaga berfluktuasi cenderung menguat pada perdagangan Jumat (3/2) pagi. Kondisi tersebut diperkirakan masih dipengaruhi oleh pemulihan permintaan dari China setelah libur Tahun Baru Imlek pada awal pekan lalu.

Sarnita Sadya

Feb 3, 2023 - 9:34 AM

Data

Harga tembaga berfluktuasi cenderung menguat pada perdagangan Jumat (3/2) pagi. Pada pukul 08.10 WIB, harga tembaga berjangka untuk kontrak Maret 2023 di bursa Comex terpantau naik 0,48% ke level US$4,1095/pon.

Sepanjang perdagangan hari ini, harga tembaga sempat menguat menyentuh level tertingginya di US$4,1173/pon dan level terendah di US$4,0868/pon. Harga tersebut berbalik arah dari penutupan perdagangan dua hari sebelumnya yang turun 3,24% pada 1-2 Februari 2023.

Adapun di bursa London Metal Exchange (LME), harga tembaga ditutup melemah 0,62% ke level US$9.030,50/ton pada perdagangan kemarin. Pelemahan tersebut melanjutkan lajunya dari perdagangan sebelumnya yang turun 1,47% pada 1 Februari 2023.

Pergerakan harga logam dasar tersebut diperkirakan masih dipengaruhi oleh pemulihan permintaan dari China setelah libur Tahun Baru Imlek pada awal pekan lalu. Kondisi tersebut terlihat dari kesamaan pola harga tembaga setelah libur Tahun Baru Imlek yang turun dua hari berturut-turut kemudian naik pada penutupan perdagangan sehari berikutnya.

Meningkatnya persediaan tembaga di seluruh pasar utama China menjadi penyebab turunnya harga tembaga pada perdagangan dua hari beruntun sebelumnya. Melansir Shanghai Metal Market (SMM), inventaris logam dasar tersebut meningkat 39.400 metrik ton dari Jumat (20/1) menjadi 236.000 metrik ton pada Sabtu (28/1). Jumlah tersebut mencatatkan kenaikan inventaris untuk minggu kelima sejak akhir Desember 2022.

Selama liburan Tahun Baru Imlek, smelter mempertahankan produksinya di tengah pemain hilir yang sedang libur. Kondisi ini yang menjadi penyebab akumulasi persediaan komoditas logam dasar tersebut di Negeri Panda. Namun, karena adanya masalah efisiensi transportasi yang buruk, akumulasi pada hari kerja pertama setelah Imlek lebih sedikit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Masalah transportasi tersebut menyebabkan banyaknya barang yang masih dalam perjalanan atau sedang menunggu di pergudangan. Kondisi ini menyebabkan perkiraan persediaan tembaga di China akan terus bertambah dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara, harga tembaga pada perdagangan hari berikutnya meningkat seiring adanya harapan lonjakan permintaan China, sebagai konsumen tembaga terbesar dunia. Melansir Reuters, Fitch Solutions memperkirakan konsumsi tembaga China akan naik 4,4% pada tahun ini setelah hanya tumbuh 1,5% pada 2022.

(Baca: Persediaan Meningkat Setelah Imlek, Harga Tembaga Turun Tipis)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags