Pemulihan China Melambat, Harga Tembaga Turun Tipis

Harga tembaga turun tipis pada perdagangan Jumat (5/5) pagi. Kondisi ini dipengaruhi oleh lemahnya pemulihan permintaan China dari perkiraan serta ancaman resesi yang ditahan oleh pelemahan dolar AS.

Sarnita Sadya

May 5, 2023 - 10:00 AM

Data

Harga tembaga bergerak terbatas pada perdagangan Jumat (5/5) pagi. Pada pukul 08.13 WIB, harga tembaga berjangka untuk kontrak Juli 2023 di bursa Comex terpantau turun tipis 0,04% ke level US$3,8613/pon.

Sepanjang perdagangan pagi ini, harga tembaga sempat menguat menyentuh level tertingginya di US$3,8670/pon dan level terendah di US$3,8545/pon. Harga tersebut berbalik arah dari perdagangan sehari sebelumnya yang naik 0,46% pada 4 Mei 2023.

Di bursa London Metal Exchange (LME), harga tembaga juga terpantau turun 0,06% ke level US$8.525,00/ton pada perdagangan pagi ini. Pergerakan tersebut juga berbalik arah dari perdagangan sehari sebelumnya yang naik 0,77% pada 4 Mei 2023.

Pergerakan harga tembaga pada pagi ini terjadi di tengah pemulihan permintaan konsumen logam utama China yang lebih lemah dari perkiraan. Melansir Reuters, aktivitas pabrik China secara tak terduga mengalami kontraksi pada April karena turunnya pesanan dan buruknya permintaan domestik hingga meluas ke sektor manufaktur.

Analis ANZ menyebutkan, pasar menjadi semakin frustasi dengan lambatnya pemulihan aktivitas ekonomi di China. Kondisi ini membuat para investor mengurangi posisi bullish bersih mereka pada tembaga LME ke level terendah enam minggu.

Selain itu, analis Citi juga menurunkan perkiraan harga tembaga dalam 0-3 bulan ke depan menjadi US$8.000/ton yang sebelumnya sebesar US$8.500/ton. Mereka menyebutkan, permintaan global yang lemah dan persediaan barang jadi yang tinggi menunjukkan tanda-tanda tidak tersedianya stok tembaga yang mungkin terjadi pada 2023.

Meski demikian, isyarat bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan menghentikan kenaikan suku bunga telah menahan pelemahan harga tembaga. Ini terjadi karena pelemahan dolar AS membuat logam dengan harga greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Setelah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, Federal Reserve membuka pintu jeda dalam siklus pengetatan agresifnya pada Rabu (3/5). Konsultan Independen Robin Bhar mengatakan, komoditas mendapat dukungan dari komentar The Fed tersebut, namun semuanya tampak sedikit diredam.

Bhar menjelaskan, masih banyak kekhawatiran di luar sana, seperti kapan resesi datang, seberapa dalam dan berapa lama, hingga kondisi China yang tampak mengecewakan dan memudar seiring berjalannya waktu.

(Baca: Harga Tembaga Naik di Tengah Penguatan Indeks Dolar AS)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags