Permintaan Eropa dan China Turun, Harga Aluminium Melemah

Harga aluminium melemah pada perdagangan Rabu (17/5) pagi. Pelemahan terjadi di tengah merosotnya permintaan aluminium di Eropa dan konsumen utama logam, China, dalam beberapa pekan terakhir di karena perlambatan ekonomi global.

Sarnita Sadya

May 17, 2023 - 9:21 AM

Data

Harga aluminium berbalik arah dan melaju di zona merah pada perdagangan Rabu (17/5) pagi. Berdasarkan data di London Metal Exchange (LME), harga aluminium turun 0,22% ke level US$2.263,00/ton pada perdagangan pukul 08.14 WIB.

Harga aluminium melemah setelah bergerak di rentang US$2.261,00/ton-US$2.266,00/ton. Adapun, pelemahan tersebut berbalik arah dari penutupan perdagangan tiga hari sebelumnya yang naik 2,56% pada 12-16 Mei 2023.

Jika melihat pergerakan sepanjang tahun berjalan, harga aluminium terpantau turun 4,77%. Harganya pun terkoreksi 20,09% dalam satu tahun terakhir.

Pergerakan harga aluminium tersebut terjadi di tengah merosotnya permintaan aluminium di Eropa dan konsumen utama logam, China, dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini diperkirakan terjadi karena perlambatan ekonomi global yang meningkatkan risiko penurunan harga.

Melansir Reuters, analis konsultan CRU, Ross Strachan mengatakan, permintaan di Eropa saat ini sangat buruk, terutama di sektor konstruksi. Adapun hal ini sebenarnya telah terjadi dalam enam hingga delapan minggu terakhir.

Seorang pembeli industri mengatakan kepada Strachan bahwa mereka memperkirakan permintaan turun sebesar 20%-40% pada paruh pertama 2023 dibandingkan dengan tahun lalu. Permintaan di China juga menunjukkan pelemahan lantaran ada sikap kehati-hatian baru-baru ini.

Direktur Riset di Concord Resources, Duncan Hobbs menyebutkan, produksi aluminium global diperkirakan naik 2% pada 2023. Namun, peningkatan permintaan yang hanya 1,5% membuat pasar surplus dan menekan harga.

Lebih lanjut dia mengatakan, pelaku pasar berjangka sebenarnya berharap Federal Reserve Amerika Serikat (AS) dapat memangkas suku bunga hampir 100 basis poin pada akhir tahun. Namun menurutnya hal tersebut tidak akan terjadi karena inflasi Negeri Paman Sam yang masih tinggi.

Sebagaimana diketahui, tingginya suku bunga dapat membuat dolar AS menguat. Adapun penguatan dolar AS tersebut dapat membebani harga komoditas, termasuk aluminium.

(Baca: Pasar Cermati Perkembangan AS, Harga Aluminium Bergerak Terbatas)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags