Daftar Komposisi Pemegang Saham hingga Penggunaan Dana IPO BABY

Saham emiten pengelola Mothercare di Indonesia, PT Multitrend Indo Tbk (BABY), resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Kamis (7/9). Bagaimana komposisi pemegang saham setelah IPO? Dan bagaimana rencana penggunaan dananya? Berikut ulasannya.

Sarnita Sadya

Sep 7, 2023 - 1:55 PM

Data

Emiten pemilik lisensi gerai Mothercare di Indonesia, PT Multitrend Indo Tbk (BABY), resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Kamis (7/9). Dalam aksi penawaran umum perdana (IPO) saham, perseroan melepas sebanyak 534 juta saham ke publik atau sekitar 20,01% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Berdasarkan keterangan dalam prospektusnya, setelah IPO porsi saham yang dimiliki oleh masyarakat mencapai 20,01%. Sementara itu, Blooming Years Pte, Ltd menjadi pemegang saham mayoritas mencapai 50,01%. Kemudian ada PT Kanmo Retailindo yang mengendalikan 26,98% saham perseroan, dan PT Multitrend Indo Tbk. sebesar 3%. Adapun Manoj Bharwani, Komisari BABY juga tercatat memiliki 40.000 saham perseroan. Namun secara persentase nilainya tidak lebih dari 5%.

Namun lebih lanjut dalam prospektusnya juga dijelaskan bahwa setelah penawaran umum perdana, Kanmo Retailindo dan Manoj Bharwani berencana untuk melakukan penjualan saham milik masing-masing pihak kepada Blooming Years di harga Rp373,37 per saham yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu 10 hari kerja setelah tercatatnya Perseroan di BEI.

Nantinya kepemilikan saham Blooming Years setelah transaksi lanjutan tersebut akan meningkat menjadi 76,99%. Adapun 3% merupakan saham treasury, dan porsi saham yang beredar di publik tetap 20,01%.

(Baca: Emiten IPO: Resmi Tercatat, Ini Laju Saham Perdana BABY)

Dalam aksi korporasinya, perseroan mematok harga penawaran Rp255 per saham dan memeroleh dana segar mencapai Rp142,04 miliar. Dari perolehan dana tersebut dan setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi, perseroan menganggarkan sebanyak 81,77% dari hasil IPO untuk mengembangkan usahanya dalam bentuk modal kerja, seperti pembiayaan kebutuhan operasional sehari-hari.

Namun, kondisi tersebut tidak terbatas untuk pembelian persediaan, pembayaran gaji karyawan, periklanan, pembiayaan kegiatan operasional, dan lainnya.

Sementara, sekitar 18,23% sisanya akan digunakan BABY untuk mengembangkan usahanya dalam bentuk belanja modal. Secara rinci, sekitar 84,91% dari anggaran tersebut akan digunakan untuk renovasi tempat dalam rangka pembukaan 15 toko baru di Jabodetabek, Makassar, Bali, Surabaya, dan Yogyakarta yang direncanakan dilakukan pada 2023 dan 2024.

Kemudian, sebanyak 15,09% dari rencana pengembangan usaha dalam bentuk belanja modal akan digunakan BABY sebagai deposit penyewaan tempat atas toko-toko baru kepada pihak ketiga.

Terkait kinerja usahanya, perseroan terpantau berhasil membali kerugian yang diderita sepanjang 2020 dan 2021 menjadi laba pada 2022. Meskipun demikian, per Februari 2023 perseroan masih mencatatkan rugi Rp5,19 miliar. Namun angkanya menyusut tajam dari rugi per Februari 2022 yang mencapai Rp15,85 miliar. Berkurangnya rugi perseroan sejalan dengan kenaikan penjualan yang mencapai Rp162,41 miliar per Februari 2022 dari Rp129,53 miliar per Februari 2022.

(Baca: Baru IPO, Ini Kinerja Pengelola Mothercare Indo (BABY) 2020-2022)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags