Deretan 8 Saham Sektor Perindustrian dengan PER dan PBV Terendah

Sebanyak 18 dari 56 saham sektor perindustrian terpantau diperdagangkan dengan PER di bawah 10 kali dan sebanyak 22 emiten memiliki PBV di bawah 1 kali. Saham ABMM, BMTR, dan MDRN terpantau memiliki PER terendah, sedangkan PBV terendah ada BHIT, BMTR, dan IKBI.

Winarni

Feb 22, 2023 - 11:00 AM

Data

Sebanyak 18 saham di sektor sektor perindustrian terpantau diperdagangkan dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10 kali dan sebanyak 22 emiten memiliki price to book value (PBV) di bawah 1 kali. Meski bukan satu-satunya, dua indikator itu seringkali turut dijadikan rujukan untuk melihat mahal atau murahnya valuasi suatu saham.

Berdasarkan data BEI yang dihimpun oleh DataIndonesia.Id pada Rabu (22/2), tiga emiten sektor perindustrian yang memiliki PER terendah ditempati oleh emiten ABMM, BMTR, dan MDRN. Sementara itu, saham dengan PBV terendah ditempati oleh emiten BHIT, BMTR, dan IKBI.

PT ABM Investama Tbk. (ABMM) tercatat menjadi emiten sektor perindustrian yang memiliki PER paling rendah yakni 2,13 kali dengan PBV tercatat   1,19 kali. Diikuti oleh PT Global Mediacom Tbk. (BMTR) dengan PER 2,17 kali dan PBV 0,18 kali. Kemudian, ada PT Modern Internasional Tbk. (MDRN) yang menempati urutan ketiga dengan PER 2,26 kali. Namun PBV MDRN tercatat negatif 1,01 kali.

Selanjutnya ada PER PT MNC Asia Holding Tbk. (BHIT) yang tercatat sebesar 2,57 kali dengan PBV 0,13 kali. Lalu PT Kobexindo Tractors Tbk. (KOBX) menduduki posisi kelima dengan PER  3,67 kali dengan PBV 1,36 kali. Kemudian PER PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) tercatat sebesar 4,14 kali dengan PBV 0,92 kali. Di posisi ketujuh ada PT United Tractors Tbk. (UNTR) dengan PER 5 kali dan nilai PBV 1,09 kali. Adapun di posisi terakhir atau kedelapan ada PT Hexindo Adiperkasa Tbk. (HEXA) yang memiliki PER 5,70 kali dengan PBV 2,12 kali.

Dalam laman resminya, BEI menjelaskan perhitungan PER didapat dari pembagian harga saham dengan laba per saham (EPS). Adapun EPS yang digunakan diperoleh dengan membagi trailing 12 bulan atas laba periode berjalan yang didistribusikan kepada entitas pemilik dengan jumlah saham tercatat.

(Baca: 8 Saham Emiten Tambang Batu Bara dengan PER dan PBV Terendah)

Sementara itu untuk PBV, tercatat 22 saham sektor perindustrian yang memiliki rasio harga saham terhadap nilai buku di bawah 1 kali. Emiten di sektor perindustrian yang memiliki PBV terendah adalah PT MNC Asia Holding Tbk. (BHIT) sebesar 0,13 kali dengan PER tercatat 2,57 kali. Diikuti oleh PT Global Mediacom Tbk. (BMTR) yang membukukan PBV 0,18 kali dan nilai PER  tercatat 2,17 kali. Di posisi ketiga ditempati PT Sumi Indo Kabel Tbk. (IKBI) yang memiliki PBV 0,25 kali. Namun nilai PER IKBI tercatat negatif 41,43 kali.

Adapun PT Island Concepts Indonesia Tbk. (ICON) mencatatkan nilai PBV 0,27 kali dengan PER  juga negatif 11,21 kali. Selanjutnya ada PT Kabelindo Murni Tbk. (KBLM) yang menempati urutan kelima dengan nilai PBV 0,27 kali dan PER KBLM tercatat tinggi sebesar 29,04 kali. Adapun PT Citatah Tbk. (CTTH) tercatat memiliki PBV sebesar 0,32 kali. Nilai PER CTTH tercatat negatif 5,33 kali.

Selanjutnya, PT Multipolar Tbk. (MLPL) berada diurutan ketujuh dengan PBV 0,36 kali. PER MLPL tercatat sebesar 12,67 kali. Terakhir diposisi delapan besar ada PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk. (SCCO) dengan nilai PBV 0,40 kali dengan PER 14,10 kali. Untuk perhitungan PBV, BEI membagi harga saham dengan nilai buku (BV). Adapun BV diperoleh dengan membagi total ekuitas dengan jumlah saham tercatat.

(Baca: 8 Saham Sektor Perkebunan Sawit dengan PER dan PBV Terendah)

Seperti diketahui price to earning ratio (PER) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih. Nilai PER mengindikasikan bahwa harga saham saat ini setara dengan berapa kali pendapatan bersih selama satu tahun.   

Saham dengan PER yang tinggi bisa menunjukkan bahwa saham tersebut bernilai tinggi karena terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Namun jika terlalu tinggi, saham tersebut dinilai memiliki valuasi harga yang terlalu tinggi atau overvalued.   

Sebaliknya, saham dengan PER rendah menunjukkan saham tersebut masih diperdagangkan di bawah harga pasar sehingga berpotensi menghasilkan keuntungan kepada investor.     

Sementara itu, price to book value (PBV) merupakan rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan. Rasio keuangan ini umumnya dipakai investor ketika menganalisis harga suatu saham untuk melihat apakah harga saham saat ini sedang dijual murah atau mahal.

Secara umum, saham dengan nilai PBV di atas 1 dianggap mahal karena mencerminkan harga saham yang melebihi nilai buku perusahaan. Sebaliknya, saham dengan nilai PBV kurang dari 1 dianggap murah sehingga banyak diburu investor.

Namun untuk mengukur tingkat PER dan PBV juga perlu dilihat berdasarkan sektor usaha yang sama.    Meskipun bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan, tetapi nilai PER dan PBV yang rendah bukanlah satu-satunya acuan mutlak untuk menentukan valuasi suatu saham. Ada hal-hal lainnya yang juga perlu dicermati seperti kinerja usaha, prospek pertumbuhan bisnis, dan lainnya.

(Baca: 8 Saham Emiten Minyak dan Gas dengan PER dan PBV Terendah)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags