Diwarnai Beragam Sentimen, IHSG Tetap Kuat Selama Sepekan

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penguatan 0,64% dalam sepekan terakhir dibandingkan pekan sebelumnya Jumat (24/3) yang berada di level 6.762,25. Pada Jumat (31/3), Indeks ditutup turun dari hari sebelumnya 0,05% atau 3,67 poin menuju level 6.805,28.

Dyah Ayu Kartika

Apr 1, 2023 - 6:50 AM

Data

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penguatan 0,64% dalam sepekan terakhir dan parkir di level 6.805,28 pada Jumat (31/3) dibandingkan pekan sebelumnya Jumat (24/3) yang berada di level 6.762,25. Meskipun secara harian, indeks ditutup turun 0,05% atau 3,67 poin.

Sektor energi menjadi pendorong utama laju IHSG selama sepekan dengan menanjak 5,44%. Diikuti sektor perindustrian yang terkerek 2,94% dalam sepekan. Sementara satu-satunya sektor yang melemah yaitu sektor keuangan yang turun 0,31% sepekan.

Dalam satu pekan, sebanyak 84,5 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp39,8 triliun. Di seluruh pasar investor asing cenderung masuk dengan net foreign buy mencapai Rp2,6 triliun, sedangkan di pasar reguler investor asing juga membukukan net buy sebesar Rp3,07 triliun.

Pergerakan bursa dalam negeri sepekan dibayangi beragam sentimen antara lain, proyeksi terbaru dari sejumlah lembaga terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satunya International Monetary Fund (IMF) dalam Article IV Mission to Indonesia, yang memperkirakan produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini berpotensi mencapai 5%.

Di sisi lain, analisis yang dipublikasikan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan juga menunjukkan bahwa Tanah Air memiliki ketahanan dalam menghadapi guncangan krisis perbankan dunia. Kondisi ini didorong oleh sejumlah hal seperti rasio kecukupan modal bank, likuiditas, dan cadangan terhadap kredit gagal bayar yang jauh lebih sehat.

Lainnya dari dalam negeri, rilis laporan keuangan dari sejumlah emiten serta sentimen dividen ikut menjadi katalis pendorong penguatan IHSG. Emiten sektor perbankan, misalnya menjadi deretan emiten yang telah mengumumkan jadwal pembagian dividen. Seperti dari BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, MEGA, BBTN.

Sementara itu, sejumlah hal tetap perlu diwaspadai seperti normalisasi harga komoditas, efek krisis keuangan dunia, hingga tingkat utang negara. Sejumlah ekonom menyarankan pemerintah dan BI untuk bersinergi memitigasi risiko dari dampak krisis perbankan global.

Dari luar, kekhawatiran pasar global terhadap gejolak sektor perbankan juga mulai mereda dalam sepekan terakhir. Tiga presiden regional The Fed pun mengungkapkan keyakinan mereka bahwa sistem perbankan tidak menghadapi krisis likuiditas. Hal tersebut pun membuat The Fed menerapkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (22/3) waktu setempat.

Meskipun demikian, keresahan pasar sempat kembali meningkat setelah saham Deutsche Bank turun 8,5% pada akhir pekan lalu. Hal itu terjadi di tengah meningkatnya credit default swaps (CDS) dari Deutsche Bank dan banyak bank lainnya.

Adapun Amerika Serikat melaporkan GDP growth rate untuk periode kuartal IV/2022 tercatat di level 2,6%, level tersebut lebih rendah dari proyeksi pasar pada level 2,7%. Lalu klaim data tunjangan pengangguran yang berakhir pada 25 Maret 2023 juga tercatat naik menjadi 198.000, lebih tinggi dari konsensus di angka 196.000 ribu dan diatas periode sebelumnya yang tercatat sebesar 191.000.

(Baca: IHSG Turun Tipis, GOTO & TLKM Jadi Pemberat (31 Maret 2023))

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags