IHSG Berbalik Turun, Sektor Keuangan Membebani (27 Maret 2023)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) berbalik melemah pada penutupan perdagangan Senin (27/3). Indeks ditutup terkoreksi 0,79% atau 53,32 poin menuju level 6.708,93 usai menguat tajam lebih dari 2% dalam dua hari perdagangan beruntun sebelumnya.

Dyah Ayu Kartika

Mar 27, 2023 - 3:48 PM

Data

Indeks harga saham gabungan (IHSG) berbalik melemah pada penutupan perdagangan Senin (27/3). Indeks ditutup terkoreksi 0,79% atau 53,32 poin menuju level 6.708,93 usai menguat tajam lebih dari 2% dalam dua hari perdagangan beruntun sebelumnya. 

Sepanjang perdagangan, indeks komposit berfluktuasi menyentuh level harian terendah di posisi 6.704,75 dan level tertinggi hariannya di posisi 6.772,6. Tercatat 295 saham berhasil menguat, 215 saham melemah, dan 215 saham lainnya ditutup stagnan. 

Indeks sektoral yang mengalami penurunan paling tajam yakni sektor keuangan dengan koreksi 1,04%. Diikuti juga oleh sektor kesehatan yang melemah 0,32%. 

Kapitalisasi pasar tercatat berada pada posisi Rp9.365,44 triliun dengan volume saham yang diperdagangkan sebanyak 23,25 miliar unit. Adapun nilai transaksi harian yang tercatat sejumlah Rp9,57 triliun. 

Deretan saham berkapitalisasi pasar besar yang ikut menekan laju gerak IHSG antara lain deretan saham bank jumbo yakni BMRI melemah 6,42% ke 10.200, BBCA turun 1,42%, saham BBNI terkoreksi 1,3% dan BBRI yang turun 0,63%.

Dari dalam negeri, proyeksi terbaru dari sejumlah lembaga terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia turut disorot pasar. International Monetary Fund (IMF) dalam Article IV Mission to Indonesia, mencatat produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini berpotensi mencapai 5%.

Perkiraan itu lebih tinggi dari perkiraan IMF sebelumnya sebesar 4,8% dalam laporan World Economic Outlook edisi Januari 2023. Namun, angka itu masih di bawah target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 sebesar 5,3%. 

Sementara sebelumnya, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam Economic Outlook Interim Report edisi Maret 2023 memperkirakan PDB nasional naik 4,7% pada tahun ini.

Normalisasi harga komoditas, efek krisis keuangan dunia, hingga tingkat utang negara menjadi hal yang perlu diwaspadai. Sejumlah ekonom pun menyarankan pemerintah dan BI untuk bersinergi memitigasi risiko dari dampak krisis perbankan global.

Sementara itu dari luar, bursa saham global terpantau beragam. Di Asia, indeks Strait Times tercatat naik 0,79%, Nikkei 225 menguat 0,33%, Hang Seng ambles 1,75%, dan indeks Shanghai Composite turun 0,44% pada Senin (27/3) pukul 15.30 WIB.

Sementara itu di Eropa, indeks FTSE 100 menghijau 0,59%. Adapun di Amerika Serikat ketiga indeks acuan ditutup menguat. Nasdaq Composite naik 0,31%, indeks S&P 500 menguat 0,56%, dan Dow Jones terapresiasi 0,41% pada akhir pekan lalu. 

Kekhawatiran pasar global terhadap gejolak sektor perbankan sempat mereda setelah tiga presiden regional The Fed mengungkapkan keyakinan mereka bahwa sistem perbankan tidak menghadapi krisis likuiditas. Hal tersebut pun yang membuat The Fed menerapkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (22/3) waktu setempat.

Namun, keresahan pasar kembali meningkat setelah saham Deutsche Bank turun 8,5% pada akhir pekan lalu. Hal itu terjadi di tengah meningkatnya credit default swaps (CDS) dari Deutsche Bank dan banyak bank lainnya.

(Baca: (Laporan) Perkembangan Pasar Modal Indonesia Februari 2023)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags