IHSG Catat Koreksi, BBRI & BMRI Pemicu (7 September 2023)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup parkir di zona merah dengan koreksi 0,59% atau 41,15 poin menuju level 6.954,81 pada perdagangan Kamis (7/9). Sepanjang perdagangan, indeks komposit bergerak dari level 6.927,42 hingga 7.003,67.

Dyah Ayu Kartika

Sep 7, 2023 - 4:52 PM

Data

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup parkir di zona merah dengan koreksi 0,59% atau 41,15 poin menuju level 6.954,81 pada perdagangan Kamis (7/9). Sepanjang perdagangan, indeks komposit bergerak dari level 6.927,42 hingga 7.003,67.

Sebanyak 210 saham masih mampu berakhir menguat, 322 saham melemah, dan 220 saham lainnya stagnan. Sektor transportasi menjadi penekan laju IHSG dengan koreksi mencapai 1,72%. Posisinya diikuti sektor properti yang turun 1,3%.

Kapitalisasi pasar tercatat berada di posisi Rp10.302,31 triliun dengan volume saham yang diperdagangkan sebanyak 23,24 miliar unit. Adapun, nilai transaksi tercatat sebanyak Rp10,94 triliun. 

Beberapa saham berkapitalisasi pasar besar yang ikut menekan laju gerak IHSG, antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) yang melemah 2,24% ke level 5.450. Kemudian, saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) terkoreksi 2,89% menuju 5.875. Saham PT Astra International Tbk. (ASII) yang melemah 1,92% ke level 6.400.

Dari dalam negeri, posisi cadangan devisa Indonesia sebesar US$137,1 miliar pada akhir Agustus 2023. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan pada akhir Juli 2023 yang sebesar US$137,7 miliar. 

Penurunan cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. Hal itu pun dipakai untuk kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. 

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angkanya pun berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Sementara itu, pergerakan IHSG yang parkir di zona merah terjadi di tengah bursa global yang cenderung melemah. Di Asia, indeks Shanghai Composite melemah 1,13%, Hang Seng terkoreksi 1,34%, dan Nikkei 225 turun 0,75% pada Kamis (7/9) pukul 16.25 WIB. Hanya indeks Strait Times yang masih naik tipis 0,05%,

Di Amerika Serikat, indeks Nasdaq Composite ditutup melemah 1,06%, S&P 500 terkoreksi 0,7%, dan Dow Jones turun 0,57% pada perdagangan Rabu (6/9) waktu setempat.

Bursa global melemah setelah rilis data sektor jasa AS yang lebih kuat dari perkiraan. Ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi yang masih stabil akan menyebabkan suku bunga The Fed tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Berdasarkan data Institute for Supply Management (ISM), PMI non-manufaktur di Negeri Paman Sam meningkat ke level 54,5 pada Agustus 2023. Angka tersebut melampaui ekspektasi di level 52,5. Sementara itu, ukuran harga yang dibayarkan oleh bisnis sektor jasa untuk input meningkat.

Dari Asia, pasar mengantisipasi tekanan lain dalam aktivitas perdagangan China. Rilis data cadangan devisa China serta angka perdagangan Australia juga turut menjadi perhatian pasar. Begitu pula dengan rencana pertemuan para menteri keuangan dan energi G20 di India menjelang pertemuan puncak para pemimpin akhir pekan ini.

(Baca: 8 Emiten Lakukan Stock Split Sepanjang Januari - Juli 2023)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags