IHSG Koreksi Tipis Sepekan, Sektor Teknologi Paling Lesu

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami koreksi tipis 0,2% dalam pekan keempat Mei 2023 dibandingkan pekan sebelumnya Jumat (19/5) yang berada di level 6.700,56. Adapun pada Jumat (26/5), indeks ditutup terkoreksi dari hari sebelumnya 0,26% atau setara 17,23 poin menuju level penutupan 6.687.

Dyah Ayu Kartika

May 27, 2023 - 6:30 AM

Data

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami koreksi tipis 0,2% ke level  6.687 pada Jumat (26/5) dibandingkan dengan pekan sebelumnya Jumat (19/5) yang berada di level 6.700,56. Adapun secara harian, indeks ditutup terkoreksi 0,26% atau setara 17,23 poin.

Lesunya IHSG selama sepekan dimotori oleh sektor teknologi yang tertekan paling signifikan yakni 5,33% dan diikuti sektor energi yang terkoreksi 3,34%. Adapun sektor yang menahan pelemahan IHSG yakni sektor barang konsumen non-primer dengan kenaikan sepekan 2,42% dan sektor transportasi menguat 2,41% sepekan.

Dalam satu pekan, sebanyak 73,7 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp41,5 triliun. Di seluruh pasar investor asing cenderung masuk dengan net foreign buy mencapai Rp1,74 triliun, sedangkan di pasar reguler investor asing juga membukukan net buy sebesar Rp2,11 triliun.

Pergerakan IHSG selama sepekan lalu dibayangi sentimen antara lain, Bank Indonesia (BI) yang melaporkan permintaan pembiayaan korporasi yang terindikasi tumbuh terbatas atau melambat pada April 2023. Ini tecermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) pembiayaan korporasi yang sebesar 19,8% pada bulan lalu.

SBT pembiayaan korporasi pada April 2023 lebih rendah dibandingkan sebulan sebelumnya yang sebesar 24%. Persentasenya juga lebih rendah dibandingkan pada April 2022 yang sebesar 29%.

Adapun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada April 2023 mencatatkan surplus senilai Rp234,7 triliun. Kondisi surplus APBN 2023 setara itu dengan 1,12% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I/2023 pun terpantau meningkat. NPI pada kuartal I/2023 terpantau surplus US$6,5 miliar atau meningkat dari US$4,7 pada kuartal IV/2022. Kinerja NPI tersebut ditopang oleh berlanjutnya surplus transaksi berjalan dan diiringi oleh surplus transaksi modal dan finansial. 

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 24-25 Mei 2023 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility di level 6,50%. 

Sementara dari global, pelaku pasar mencermati pembicaraan antara Gedung Putih dan perwakilan Republik tentang peningkatan plafon utang AS yang terus berlarut-larut tanpa kesepakatan. Mendekati tenggat waktu 1 Juni 2023, pelaku pasar semakin berhati-hati. Kekhawatiran pun kembali meningkat lantaran kurangnya kemajuan dalam meningkatkan batas utang pemerintah AS sebesar US$31,4 triliun. Investor gelisah karena risiko bencana gagal bayar semakin besar.

Selain itu, kebijakan Federal Reserve juga menjadi fokus pasar. Risalah rapat dari pertemuan The Fed pada 2-3 Mei lalu yang baru saja dirilis menunjukkan bahwa pejabat The Fed yang sebelumnya setuju akan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut menjadi kurang pasti saat ini. Adapun investor memperkirakan bank sentral akan menghentikan kampanye kenaikan suku bunga yang agresif pada pertemuan 13-14 Juni mendatang.

(Baca: IHSG Kembali Melemah, GOTO & ADRO Pemberat (26 Mei 2023))

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags