IHSG Melemah 1,18% Sepekan, Sektor Barang Baku Paling Tertekan

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami pelemahan 1,18% dalam pekan kedua Mei 2023 dibandingkan pekan sebelumnya Jumat (5/5) yang berada di level 6.787,63. Adapun pada Jumat (12/5), indeks ditutup melemah dari hari sebelumnya 0,71% atau setara 48,18 poin menuju level 6.707,76.

Dyah Ayu Kartika

May 13, 2023 - 6:16 AM

Data

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami pelemahan 1,18% dalam pekan kedua Mei 2023 dibandingkan pekan sebelumnya Jumat (5/5) yang berada di level 6.787,63. Adapun pada Jumat (12/5), indeks ditutup melemah dari hari sebelumnya 0,71% atau setara 48,18 poin menuju level 6.707,76.

Lesunya IHSG selama sepekan dimotori oleh barang baku yang tertekan paling signifikan yakni 3,86% dan diikuti sektor energi yang terkoreksi 1,82%. Adapun sektor yang menahan pelemahan IHSG yakni sektor properti dengan kenaikan sepekan 4,44% dan sektor barang konsumen non-primer menguat 3,73% sepekan.

Dalam satu pekan, sebanyak 85,8 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp41,6 triliun. Di seluruh pasar investor asing cenderung keluar dengan net foreign sell mencapai Rp1,1 triliun, sedangkan di pasar reguler investor asing juga membukukan net sell sebesar Rp775,48 miliar.

Selama satu pekan, indeks komposit dibayangi beragam sentimen antara lain dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2023 mencapai US$144,2 miliar. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2023 sebesar US$145,2 miliar. 

Hasil Survei Konsumen BI per April 2023 yang mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dari bulan sebelumnya. Hal itu tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2023 yang berada di level 126,1. Nilai itu lebih tinggi dibandingkan posisi Maret 2023 sebesar 123,3. Kenaikan itu didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang meningkat.

Lalu rilis Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2023 oleh Bank Indonesia (BI) tercatat sebesar 215,3 atau secara tahunan tumbuh sebesar 4,9% (yoy), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,6% (yoy). Secara bulanan, penjualan eceran tumbuh positif sebesar 7,0% (mtm).

Sementara dari Global, fokus perhatian pasar beralih ke pembicaraan mengenai plafon utang AS yang menambah kewaspadaan pasar karena para pedagang menunggu pembaruan rencana dari pertemuan antara Presiden AS Joe Biden, Ketua DPR dari Partai Republik Kevin McCarthy, serta para pemimpin kongres lainnya di Gedung Putih.

Lalu, Departemen Tenaga Kerja AS merilis data inflasi atau Indeks Harga Konsumen (CPI) per April naik 4,9% secara tahunan. Angka tersebut sedikit lebih rendah dari perkiraan 5%. Hal tersebut meningkatkan harapan bahwa siklus kenaikan suku bunga Federal Reserve hampir berakhir. 

Sementara itu inflasi secara bulanan pada April tercatat naik 0,4% setelah meningkat 0,1% pada Maret. Pasar menilai data tersebut menunjukkan bahwa Federal Reserve berhasil menjinakkan inflasi yang tinggi. Adapun The Fed diperkirakan memberi jeda kenaikan suku bunga pada pertemuan bank sentral Juni mendatang, dan kurang dari 5% peluang kenaikan 25 basis poin lainnya.

(Baca: Ikuti Bursa Global, IHSG Parkir di Zona Merah (12 Mei 2023))

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags