IHSG Naik 0,8% Sepekan, Terdorong Sektor Barang Baku

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penguatan sebesar 0,84% dalam sepekan terakhir. Secara harian, IHSG juga naik 0,34% atau 23,46 poin menuju level 6.982,79 pada penutupan perdagangan Jumat (15/9).

Dyah Ayu Kartika

Sep 16, 2023 - 5:00 AM

Data

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penguatan sebesar 0,84% dalam sepekan terakhir. Secara harian, IHSG juga naik 0,34% atau 23,46 poin menuju level 6.982,79 pada penutupan perdagangan Jumat (15/9).

Selama sepekan, sektor barang baku menguat paling signifikan hingga 6%. Posisinya diikuti oleh sektor energi yang meningkat 1,9%. 

Sementara, sektor properti mencatatkan pelemahan paling dalam sebesar 1,27%. Ada pula sektor barang konsumen non-primer yang menurun 1,05%.

Sebanyak 100,7 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp46,2 triliun dalam sepekan terakhir. Investor asing cenderung keluar dengan net foreign sell mencapai Rp464,75 miliar di seluruh pasar. Sementara, investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,83 triliun di pasar reguler.

Pergerakan bursa dalam negeri selama sepekan dibayangi beragam katalis. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat, Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 203,3 atau tumbuh 1,6% (yoy) pada Juli 2023. Perkembangan ini didukung oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang yang tumbuh positif. 

Badan Pusat Statistik (BPS) juga merilis neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$3,12 miliar pada Agustus 2023. Nilai tersebut melonjak 141,9% dibandingkan sebulan sebelumnya (m-to-m) yang sebesar US$1,29 miliar.

Perkembangan tersebut utamanya didorong berlanjutnya surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar US$4,47 miliar. Sedangkan, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$1,34 miliar pada bulan lalu.

Dari Amerika Serikat (AS), Presiden Joe Biden terpantau menjalin kesepakatan dengan Vietnam mengenai semikonduktor dan mineral pada Minggu (10/9) lalu. Hal itu merupakan capaian baru setelah kedua negara menjalani konflik yang panjang. 

Kemudian, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat 0,6% secara bulanan (m-to-m) pada Agustus 2023. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juni 2022.

Secara tahunan, inflasi di Negeri Paman Sam tercatat sebesar 3,7% (yoy) pada bulan lalu. Angkanya lebih tinggi dibandingkan pada Juli 2023 yang sebesar 3,2% (yoy).

Meski naik, tren inflasi tersebut dianggap masih sesuai dengan proyeksi ekonom. Hal itu pun dinilai tak cukup membuat The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan lagi suku bunga acuannya pada pertemuan mendatang.

Lebih lanjut, Bank sentral Eropa (ECB) kembali menaikkan suku bunga simpanan sebesar 25 basis poin (bps) pada Kamis (14/9). Ini menandakan kenaikan biaya pinjaman selama 10 kali berturut-turut. 

Dari China, inflasi tercatat sebesar 0,1% (yoy) pada Agustus 2023. Angkanya lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar yang sebesar 0,2%. 

Adapun, inflasi inti yang tidak termasuk harga pangan dan energi di Negeri Panda sebesar 0,8% (yoy) pada Agustus 2023. Laju inflasi inti tersebut tak berubah dibandingkan pada Juli 2023, meski tetap yang tercepat sejak awal tahun ini.

Lalu, Bank Sentral China (PBoC) menawarkan ¥591 miliar melalui fasilitas pinjaman jangka menengah pada Jumat (15/9). Hal itu menghasilkan suntikan bersih sebesar ¥191 miliar atau sekitar Rp403 triliun. 

PBoC menambahkan uang tunai ke pasar melalui pinjaman kebijakan utama untuk 10 bulan berturut-turut. Bank sentral China juga mempertahankan suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF) yang tidak berubah dari 2,5% setelah pemotongan 15 basis poin (bps) pada bulan lalu.

(Baca: IHSG Menghijau, Sektor Barang Baku Memimpin (15 September 2023))

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags