Indeks Obligasi Indonesia (ICBI) Terus Naik, 1 September 2023

Indeks acuan obligasi Indonesia atau ICBI menggenapkan reli selama 10 hari perdagangan beruntun pada penutupan Jumat (1/9). Pada saat yang sama, nilai mata uang rupiah dan laju dolar AS menguat setelah data pasar tenaga kerja AS pada Agustus terpantau masih kuat meski ada tanda kemunduran.

Sarnita Sadya

Sep 4, 2023 - 9:20 AM

Data

Indeks acuan obligasi Indonesia atau Indonesia Composite Bond Index (ICBI) melanjutkan reli pada penutupan perdagangan Jumat (1/9). Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), ICBI ditutup naik 0,07% atau 0,27 poin ke level 369,78.

Indeks obligasi komposit tersebut melanjutkan lajunya dari perdagangan 9 hari sebelumnya yang ditutup naik dengan akumulasi kenaikan 1,05% atau 3,84 poin pada 23-31 Agustus 2023.

Jika dilihat pergerakan sepanjang bulan ini (month to date/mtd), pergerakan ICBI terpantau naik tipis 0,07%. Secara tahun berjalan (year to date/ytd) hingga 1 September 2023, lajunya naik 7,25% dan secara tahunan (year on year/yoy) menguat 9,96%.

Penguatan indeks acuan obligasi Indonesia pada perdagangan Jumat (1/9) tersebut juga sejalan dengan penguatan kinerja return obligasi pemerintah dan korporasi.

Tercatat, indeks obligasi negara (INDOBeX Government Total Return/INDOBeXG-TR) menguat 0,07% atau 0,26 poin ke level 362,07 pada perdagangan Jumat (1/9). Pergerakannya terpantau naik 0,07% sepanjang bulan berjalan (mtd), tumbuh 7,37% sepanjang tahun berjalan (ytd), dan menguat 10,10% secara tahunan (yoy).

Kondisi yang sama juga terjadi pada indeks obligasi korporasi (INDOBeX Corporate Total Return/INDOBeXC-TR) yang tumbuh 0,08% atau 0,32 poin ke level 414,15 pada waktu perdagangan yang sama. Laju INDOBeXC-TR juga terpantau naik 0,08% sepanjang bulan berjalan (mtd), tumbuh 5,59% sepanjang tahun berjalan (ytd), dan menguat 8,03% secara tahunan.

Adapun pergerakan ICBI ini terjadi di tengah nilai mata uang rupiah dan laju dolar AS yang menguat pada penutupan perdagangan Jumat (1/9). Tercatat, mata uang Garuda tersebut menguat 0,01% dari Rp15.239/US$ pada penutupan Kamis (31/8) menjadi Rp15.237/US$ pada penutupan Jumat (1/9).

Sementara indeks dolar AS terpantau ditutup naik 0,58% ke level 104,191 pada waktu perdagangan yang sama, atau level tertinggi baru sejak perdagangan Jumat (25/8) yang mencapai 104,013. Melansir Reuters, kondisi ini terjadi setelah rilisnya data pasar tenaga kerja AS pada Agustus yang masih menguat meski terdapat tanda-tanda kemunduran.

Tercatat, pengusaha menambahkan 187.000 pekerjaan pada Agustus, atau di atas ekspektasi kenaikan 170.000 pekerjaan. Namun, data pada Juli direvisi lebih rendah menjadi 157.000 pekerjaan dibandingkan dengan kenaikan yang dilaporkan sebelumnya yang sebanyak 187.000 pekerjaan.

Sementara itu tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam pada Agustus naik menjadi 3,8%. Data ini memperkuat ekspektasi pasar akan jeda kenaikan suku bunga The Fed bulan ini.

Dalam laman resminya, PHEI menjelaskan bahwa Indonesia Bond Indexes atau INDOBeX merupakan indikator untuk mengukur pergerakan dan perkembangan harga ataupun yield obligasi. 

Indeks ini dapat dijadikan acuan untuk menggambarkan tren pergerakan pasar obligasi secara umum. INDOBeX mencakup seluruh obligasi berdenominasi Rupiah yang diterbitkan oleh Pemerintah maupun oleh pihak korporasi baik yang berupa obligasi konvensional maupun sukuk.

INDOBeX-Government adalah indeks obligasi berdenominasi rupiah yang diterbitkan oleh pemerintah baik obligasi konvensional maupun sukuk. Sementara INDOBeX-Corporate adalah indeks obligasi berdenominasi rupiah yang diterbitkan oleh korporasi baik obligasi konvensional maupun sukuk. 

Adapun TR atau total return menggambarkan pergerakan tingkat pengembalian (rate of return) keseluruhan obligasi yang dihitung berdasarkan kenaikan/penurunan harga obligasi, akumulasi perolehan bunga berjalan (accrued interest) dan perolehan kupon tahunan yang reinvestasikan kembali.

(Baca: Cek Jadwal Penawaran dan Mitra Distribusi Penjualan SR019)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags