Indeks Sektoral : 7 Sektor Terkoreksi, IHSG Tetap di Zona Merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap di zona merah pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (19/6).

Haratwadi Handoko

Jun 19, 2023 - 7:59 PM

Data

IHSG melemah 0,19% atau 12,49 poin menuju level 6.686,06. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang harian dari level 6.669,05 hingga level 6.705,04.

Indeks komposit terbebani oleh tujuh sektor. Sektor teknologi tertekan paling dalam sebesar 1,07% ke level 4.979,09. Posisinya diikuti sektor kesehatan yang juga melemah 0,49% ke level 1.499,03. Sedangkan empat sektor lainnya mencatatkan kenaikan. Sektor properti dan real estat memimpin penguatan dengan 1,01% ke level 741,08.

Sektor Kesehatan

Indeks sektor kesehatan berakhir di zona merah dengan ditutup terkoreksi 0,49% atau 7,34 poin ke level 1.499,03 pada akhir perdagangan Senin (19/6). Indeks terkoreksi setelah bergerak di rentang 1.490,07-1.506,37.

Sejumlah saham yang ikut memberatkan sektor kesehatan antara lain PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) jatuh 1,43% atau 30 poin ke level 2.070, lalu PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) terkoreksi 0,65% atau 5 poin ke level 770, dan PT Merck Tbk. (MERK) turun 0,42% atau 20 poin ke level 4.700.

Emiten BUMN farmasi, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) menjelaskan salah satu penyebab penurunan laba bersih bagi pengendali akibat Indonesia Investment Authority (INA) dan Silk Road Fund (SRF) yang memiliki 40% saham per kuartal I/2023. Direktur Utama Kimia Farma David Utama mengatakan laba bersih emiten plat merah tersebut harus dibagikan kepada INA dan SRF yang memegang 40% saham usai melalui (HMETD) atau rights issue sebesar Rp333,23 miliar.

Lebih lanjut, dia mengatakan INA menggandeng SRF sebagai partner untuk memenuhi kebutuhan dari Kimia Farma. Salah satu bentuknya adalah menjajaki kerjasama dengan perusahaan asing di China dan Korea Selatan. Menurutnya INA dapat membantu Kimia Farma dengan memberikan pengetahuan untuk menjaga profil keuangan Kimia Farma. Sementara, itu Kimia Farma akan lebih fokus pada operasional.

Sebagai informasi, Kimia Farma membukukan jumlah laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk hanya Rp386,49 juta, turun 93% dibandingkan dengan Rp5,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Adapun, laba kepentingan non pengendali tercatat tumbuh drastis menjadi Rp24,24 miliar pada kuartal I tahun 2023 berbanding dengan rugi Rp3,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu.


Sektor Properti & Real Estat

Indeks sektor properti dan real estat menjadi indeks sektoral yang paling kuat dengan naik 1,01% atau 7,38 poin ke level 741,08 pada akhir perdagangan Senin (19/6). Indeks menguat setelah bergerak di rentang 733,28-741,9.

Sejumlah saham yang ikut menopang sektor properti dan real estat antara lain PT Pudjiadi Prestige Tbk. (PUDP) terapresiasi 13,79% atau 80 poin ke level 660, lalu PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK) naik 5,59% atau 50 poin ke level 945, dan PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) menguat 3,56% atau 40 poin ke level 1.165.

PT Pudjiadi Prestige Tbk. (PUDP), emiten pengembang properti, berhasil membalikkan rugi menjadi laba sebesar Rp279 miliar pada Tahun Buku 2022. Direktur PT Pudjiadi Prestige, Toto Sasetyo Dwi Budi Listyanto mengatakan walaupun secara umum kondisi perekonomian global belum membaik seiring terjadinya perang antara Rusia dan Ukraina yang memuncak serta pandemi Covid-19 yang belum usai, perseroan mampu memberikan kinerja yang cukup baik.

Laba Bersih yang dicapai oleh Perseroan pada 2022 yang sebesar Rp279 miliar atau meningkat 1.673,60% dari sebelumnya rugi bersih pada 2021 sebesar Rp17,73 miliar. Toto menambahkan pendapatan usaha emiten berkode PUDP pada 2022 tercatat sebesar Rp471,45 milliar meningkat 753,15% dibandingkan tahun 2021 yang tercatat Rp55,26 miliar. Adapun, untuk Laba Bersih per saham mengalami kenaikan dari (Rp53,83) di tahun 2021 menjadi Rp846,59 di tahun 2022.

Adanya peningkatan Pendapatan Usaha Perseroan ini, maka pada tahun 2022 Perseroan memutuskan untuk melakukan pelunasan pinjaman Perseroan di Bank Mandiri, Bank CIMB Niaga dan Bank BCA. Dengan pelunasan ini maka total utang bank turun 63,20% dari Rp159,5 miliar pada 2021 menjadi Rp2,3 miliar pada 2022.


Sektor Teknologi

Indeks sektor teknologi menjadi indeks sektoral yang paling tertekan, ditutup jatuh 1,07% atau 54,04 poin ke level 4.979,09 pada akhir perdagangan Senin (19/6). Indeks terjatuh setelah bergerak di rentang 4.968,42-5.082,06.

Sejumlah saham yang ikut menekan sektor teknologi antara lain PT Menn Teknologi Indonesia Tbk. (MENN) turun 1,96% atau 1 poin ke level 50, lalu PT Sentral Mitra Informatika Tbk. (LUCK) jatuh 1,08% atau 1 poin ke level 92, dan PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL) melemah 0,94% atau 5 poin ke level 525.

Emiten teknologi terafiliasi Grup Ciputra, PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL) membukukan penurunan penjualan dan laba bersih sepanjang tiga bulan pertama 2023. MTDL membukukan pendapatan sebesar Rp4,5 triliun pada kuartal I/2023, turun 12,76% dibandingkan kuartal I/2022 yang sebesar Rp5,16 triliun.

Pendapatan dari perangkat keras MTDL tercatat turun menjadi Rp2,98 triliun, dari Rp3,81 triliun secara tahunan, atau turun 21,70%. Akan tetapi, penjualan perangkat lunak MTDL naik 35,60% menjadi Rp1,2 triliun, dari Rp887 miliar secara tahunan. Turunnya penjualan ini turut membuat laba bersih MTDL turun menjadi Rp146 miliar, dari Rp164 miliar. Laba bersih ini turun 11,05% secara tahunan.

Presiden Direktur MTDL Susanto Djaja mengatakan meski kinerja turun, pihaknya optimistis permintaan TIK akan terus tumbuh dan mengarah pada pemulihan pada kuartal berikutnya. Dia menjelaskan pendapatan bisnis cloud services MTDL melonjak 87% (YoY) pada kuartal I/2023, seiring tren pergeseran minat perusahaan‐perusahaan terhadap layanan Cloud serta meningkatnya kepedulian kepada dunia maya.

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags