Indeks Sektoral : Hanya Ditopang 2 Sektor, IHSG Berhasil Rebound

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup rebound pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (26/6).

Haratwadi Handoko

Jun 26, 2023 - 7:39 PM

Data

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,38% atau setara 24,94 poin ke level 6.664,67 pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (26/6). Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.622,18 hingga level 6.674,06.

Indeks komposit hanya disokong oleh dua sektor. Sektor keuangan memimpin penguatan dengan naik 0,62% ke level 1.401,76. Diikuti sektor infrastruktur terpantau menguat 0,33% ke level 850,69. Sedangkan sembilan sektor lainnya mencatatkan penurunan. Sektor energi memimpin pelemahan dengan turun 1,47% ke level 1.765,35.

Sektor Energi

Indeks sektor energi menjadi indeks sektoral yang paling tertekan, ditutup jatuh 1,47% atau 26,3 poin ke level 1.765,35 pada akhir perdagangan Senin (26/6). Indeks terjatuh setelah bergerak di rentang 1.759,96-1.791,65.

Sejumlah saham yang ikut menekan sektor energi antara lain PT Mitra Energi Persada Tbk. (KOPI) turun 1,75% atau 6 poin ke level 336, lalu PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) jatuh 0,93% atau 2 poin ke level 212, dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) melemah 0,55% atau 5 poin ke level 900.

Wakil Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Achmad Widjaja, menilai negatif kebijakan pemerintah melepas harga jual gas tertentu atau HGBT industri ke dalam negosiasi business to business bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Harga yang diterima industri penerima manfaat kompak naik menjadi lebih tinggi dari patokan sebelumnya US$6 per juta metrik british thermal unit (MMBtu) atau maksimal US$7 per MMBtu.

Menurut Achmad, ketentuan itu justru membuat hitung-hitungan investasi dan rencana kerja perusahaan menjadi tidak pasti. Lantaran, masih terdapat ruang yang lebar bagi KKKS untuk bernegosiasi ihwal harga gas yang dijual ke pembeli. Dia menyebutkan HGBT ini harusnya dibikin satu harga, satu kebijakan, jangan dibikin mengambang begitu jadi kita kan susah menentukan anggaran dan bujet ke depan.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerangkan keputusan untuk menaikan harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk tujuh industri penerima manfaat disebabkan karena ongkos produksi yang makin mahal di sisi hulu. Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, mengatakan penyesuaian HGBT itu dilakukan untuk mengimbangi biaya produksi dari lapangan-lapangan tua yang ada di dalam negeri. Langkah itu diharapkan dapat tetap menjaga penerimaan dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau KKKS sembari memastikan investasi di sisi hulu tetap kompetitif.


Sektor Keuangan

Indeks sektor keuangan menjadi indeks sektoral yang paling kuat dengan naik 0,62% atau 8,57 poin ke level 1.401,76 pada akhir perdagangan Senin (26/6). Indeks menguat setelah bergerak di rentang 1.392,93-1.402,54.

Sejumlah saham yang ikut menopang sektor keuangan antara lain PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menguat 1,11% atau 100 poin ke level 9.125, lalu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) naik 0,99% atau 50 poin ke level 5.125, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terapresiasi 0,93% atau 50 poin ke level 5.450.

Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp8.332,3 triliun pada Mei 2023. Posisi uang beredar tersebut tumbuh sebesar 6,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,6% (yoy). Perkembangan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan uang kuasi sebesar 9,9% (yoy). Pertumbuhan uang kuasi terutama didorong oleh pertumbuhan simpanan berjangka sebesar 7,9% (yoy) pada Mei 2023, naik dari bulan sebelumnya yang tumbuh 4,9% (yoy).

Selain itu, giro valas mencatatkan pertumbuhan yang tinggi sebesar 22,6% (yoy), melambat dari pertumbuhan 29,2% pada April 2023. Selanjutnya, tabungan lainnya tercatat tumbuh sebesar 4,7% (yoy), juga melambat dari pertumbuhan sebesar 6,9% pada April 2023. Sementara itu, komponen uang beredar sempit tumbuh sebesar 3,4% (yoy), di mana tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu tercatat mencapai Rp2.200 triliun atau tumbuh sebesar 0,4% (yoy). Perkembangan M2 pada Mei 2023 terutama dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit.

Adapun, penyaluran kredit pada Mei 2023 tercatat tumbuh sebesar 9,4% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 8,1% (yoy) sejalan dengan membaiknya perkembangan kredit produktif maupun konsumtif. Aktiva luar negeri bersih juga tumbuh sebesar 9,2% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 11,0% (yoy). Di sisi lain, tagihan bersih kepada pemerintah pusat (Pempus) terkontraksi sebesar 19,8% (yoy), setelah terkontraksi sebesar 25,3% (yoy) pada bulan sebelumnya.


Sektor Infrastruktur

Indeks sektor infrastruktur ikut menopang kenaikan IHSG dengan ditutup menguat 0,33% atau 2,81 poin ke level 850,69 pada akhir perdagangan Senin (26/6). Indeks menguat setelah bergerak di rentang 846,39-853,32.

Sejumlah saham yang ikut mendorong sektor infrastruktur antara lain PT ICTSI Jasa Prima Tbk. (KARW) menguat 5,36% atau 3 poin ke level 59, lalu PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) naik 2,60% atau 20 poin ke level 790, dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk. (IPCM) terapresiasi 0,68% atau 2 poin ke level 296.

Anak usaha Grup Pelindo, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) menorehkan kinerja positif sepanjang 2022 dengan mencatatkan kenaikan laba bersih dan pendapatan yang signifikan. Berdasarkan laporan keuangan, IPCC mencetak laba tahun berjalan Rp161,72 miliar pada 2022 atau melesat 169% secara year-on-year (yoy) dibanding 2021 yang sebesar Rp60,05 miliar. Peningkatan laba pun terjadi seiring dengan pertumbuhan pendapatan. Emiten logistik tersebut membukukan pendapatan Rp726,57 miliar pada 2022, atau naik 40,58% (yoy) dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp516,83 miliar.

Kontribusi pendapatan IPCC ditopang oleh pelayanan jasa terminal dan jasa barang di pelabuhan sebesar Rp709,77 miliar. Selebihnya, pelayanan jasa rupa-rupa, bisnis fasilitas dan utilitas berkontribusi sebesar Rp16,79 miliar. Adapun berdasarkan segmen geografis, wilayah pelabuhan Tanjung Priok menyerap porsi mendapatan terbanyak untuk IPCC mencapai Rp701,42 miliar. Selanjutnya Belawan, Sumatera Utara Rp13,19 miliar.

Seiring meningkatnya pendapatan, beban pokok pendapatan IPCC juga meningkat 19,18% menjadi Rp379,72 miliar dibanding tahun 2021 sebesar Rp318,58 miliar. Beban pokok perseroan sebagian besar merupakan beban kerja sama mitra usaha, penyusutan, hingga tenaga kerja. Berdasarkan neraca, total aset IPCC tumbuh 11,66% menjadi Rp2,19 triliun, dibanding tahun 2021 yang senilai Rp1,96 triliun. Sementara itu, jumlah liabilitas perseroan naik menjadi Rp1,02 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp897,88 miliar. Sedangkan ekuitas juga naik menjadi Rp1,16 triliun dibanding Rp1,06 triliun pada 2021.

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags