Indeks Sektoral : Lima Sektor Melemah, IHSG Tetap di Zona Merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertahan di zona merah pada penutupan perdagangan akhir bulan, Jumat (31/3).

Haratwadi Handoko

Mar 31, 2023 - 5:31 PM

Data

IHSG melemah tipis 0,05% atau 3,67 poin menuju level 6.805,28. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di level terendah 6.789,61 hingga tertinggi di posisi 6.831,55.

Indeks komposit terbebani oleh lima sektor. Sektor teknologi memimpin pelemahan dengan 0,74% ke level 5.100,73. Posisinya diikuti sektor transportasi dan logistik yang juga melemah 0,58% ke level 1.789,36. Sedangkan enam sektor lainnya mencatatkan kenaikan. Sektor energi memimpin penguatan dengan 0,83% ke level 2.103,64.

Sektor Energi

Indeks sektor energi menjadi indeks sektoral yang paling kuat dengan naik 0,83% atau 17,36 poin ke level 2.103,64 pada akhir perdagangan Jumat (31/3). Indeks menguat setelah bergerak di rentang 2.072,69-2.108,63.

Sejumlah saham yang ikut menopang sektor energi antara lain PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) terapresiasi 3,10% atau 120 poin ke level 3.990, lalu PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) naik 1,05% atau 30 poin ke level 2.900, dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menguat 0,79% atau 1 poin ke level 127.

Emiten batu bara kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) membukukan peningkatan kinerja hingga akhir tahun 2022. BUMI mencetak total penjualan US$1,83 miliar atau setara Rp27,6 triliun (kurs Jisdor Rp15.088 per dolar AS) sepanjang 2022. Penjualan BUMI ini melesat 81,52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$1 miliar.

Meningkatnya penjualan BUMI ini didorong oleh penjualan batu bara sebesar US$1,81 miliar hingga akhir 2022. Penjualan batu bara mendominasi total penjualan BUMI. Sementara itu, penjualan emas BUMI ke pihak ketiga mencapai US$10,1 juta, dan jasa sebesar US$1,5 juta. BUMI tercatat mencetak laba bruto senilai US$370,6 juta, naik 83,73% secara tahunan dari US$201,7 juta. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk BUMI pun melesat 212,63% hingga akhir 2022.

BUMI tercatat mencetak laba bersih senilai US$525,27 juta atau setara Rp7,92 triliun pada 2022, dibandingkan dengan 2021 yang sebesar US$168 juta. Adapun hingga akhir 2022, BUMI mencatatkan penerimaan dari pelanggan sebesar US$1,7 miliar. Jumlah kas dan setara kas pada akhir periode BUMI sebesar US$67,8 juta. Sampai 31 Desember 2022, BUMI mencatatkan total aset senilai US$4,4 miliar, naik dibandingkan 31 Desember 2021 sebesar US$4,22 miliar. Jumlah liabilitas BUMI hingga akhir Desember 2022 adalah sebesar US$1,66 miliar, turun dibandingkan akhir Desember 2021 sebesar US$3,5 miliar. Adapun jumlah ekuitas BUMI sampai akhir 2022 adalah sebesar US$2,81 miliar, naik dibandingkan akhir 2021 sebesar US$646 juta.


Sektor Teknologi

Indeks sektor teknologi menjadi indeks sektoral yang paling tertekan, ditutup jatuh 0,74% atau 37,97 poin ke level 5.100,73 pada akhir perdagangan Jumat (31/3). Indeks terjatuh setelah bergerak di rentang 5.068,8-5.168,78.

Sejumlah saham yang ikut menekan sektor teknologi antara lain PT NFC Indonesia Tbk. (NFCX) turun 4,12% atau 275 poin ke level 6.400, lalu PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) jatuh 3,61% atau 3 poin ke level 80, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) melemah 2,68% atau 3 poin ke level 109.

Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) menilai pemberhentian PPKM bukan alasan transaksi e-commerce melambat. Ketua Umum idEA Bima laga menjelaskan nilai transaksi e-commerce sepanjang 2022 sebesar Rp476,3 triliun bukanlah penurunan melainkan perlambatan pertumbuhan. Bima pun menilai perlambatan ini dikarenakan adanya inflasi tinggi yang terjadi pada September hingga Desember 2022. Inflasi berasal dari adanya kenaikan bahan bakar minyak [BBM]. Kenaikan ini pun berdampak pada mode transportasi orang dan barang [logistik]. Di mana pada transaksi digital seperti marketplace sangat berdampak pada logistik.

Bima juga menekankan dalam data internalnya, adanya peningkatan transaksi di Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) dibandingkan pada 2021, menjadi Rp21 triliun pada 2022 dan total belanja Harbolnas pada 2021 berada di angka Rp18,1 triliun. Bima mengatakan bahwa targetnya kurang tercapai, kurang sedikit produk lokal. Produk lokal ditargetkan 70% dari total transaksi Rp21 triliun, namun hanya mencapai di sekitaran 50% atau Rp10 triliun. Produk lokal pun terjadi pengurangan di luar pulau Jawa, yang mana membutuhkan logistik. idEA menilai dengan naiknya harga BBM, adanya peningkatan biaya pengiriman barang antar kota. Hal ini memberikan dampak penurunan transaksi produk lokal lintas pulau.


Sektor Transportasi & Logistik

Indeks sektor transportasi dan logistik berakhir di zona merah dengan ditutup terkoreksi 0,58% atau 10,46 poin ke level 1.789,36 pada akhir perdagangan Jumat (31/3). Indeks terkoreksi setelah bergerak di rentang 1.782,4-1.813,22.

Sejumlah saham yang ikut memberatkan sektor transportasi dan logistik antara lain PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) jatuh 5,13% atau 4 poin ke level 74, lalu PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk. (WEHA) terkoreksi 1,74% atau 2 poin ke level 113, dan PT Blue Bird Tbk. (BIRD) turun 1,69% atau 30 poin ke level 1.745.

Indonesia dinilai terlambat dalam membangun fasilitas transportasi publik di kota-kota besar yang berimbas pada meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan. Hal tersebut diungkapkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Peresmian Depo Kereta Api Maros dan KA Makassar-Parepare pada Rabu (29/3).

Jokowi mengatakan, Indonesia cenderung terlambat dalam membangun fasilitas transportasi massal di wilayah seperti kota-kota besar dan ibu kota provinsi. Padahal, kehadiran transportasi publik baik untuk penumpang maupun barang merupakan hal yang mendasar untuk menghubungkan antar daerah di Indonesia. Oleh karena itu, Jokowi pun menginstruksikan jajarannya untuk membangun sarana transportasi publik di wilayah-wilayah seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Jokowi memaparkan, Jakarta saat ini masih dihadapkan pada masalah kemacetan meski telah memiliki beberapa fasilitas transportasi publik seperti MRT dan LRT. Menurut Jokowi, Jakarta terlambat membangun fasilitas transportasi publik selama sekitar 30 tahun. Jokowi melanjutkan, penggunaan kendaraan pribadi yang tinggi tidak hanya terjadi di Jakarta. Dia menuturkan kemacetan juga terjadi di wilayah lain seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Makassar, dan lainnya.

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags