Laju 8 Saham dalam Pemantauan Khusus BEI dengan Market Cap Besar Sepanjang 2024 Berjalan

Artikel ini menyajikan data 8 emiten yang masuk ke dalam Papan Pemantauan Khusus BEI dengan kapitalisasi pasar terbesar, beserta laju pergerakan sahamnya sepanjang tahun berjalan pada 2 Januari-3 Juni 2024.

Muhammad Fikri

Jun 4, 2024 - 4:15 PM

Data

Berdasarkan pantauan DataIndonesia, pada awal bulan ini tercatat ada 231 saham yang masuk ke dalam papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Jumlah ini meningkat dari April 2024 yang sebanyak 214 saham. Sebagai informasi, Papan Pemantauan Khusus (PPK) merupakan papan untuk emiten yang memenuhi kriteria tertentu yang ditetapkan BEI. Setidaknya ada 11 kriteria yang ditetapkan BEI untuk emiten dalam pantauan khusus.

Di antara 231 saham tersebut, terdapat sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar yang cukup besar. Salah satunya bahkan merupakan big caps, yakni emiten yang bergerak di sektor energi baru terbarukan (EBT), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN)

DataIndonesia mencatat laju pergerakan saham 8 emiten dalam pantauan khusus dengan kapitalisasi pasar terbesar sepanjang 2024 berjalan hingga penutupan 3 Juni. Berikut rinciannya:

BREN

Emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), menjadi emiten dalam PPK dengan kapitalisasi pasar terbesar mencapai Rp1.063,60 triliun. Nilai kapitalisasi pasar itu di bawah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang sebesar Rp1.164,95 triliun.

BREN tercatat masuk ke dalam papan pemantauan khusus sejak 29 Mei 2024 karena terkena suspensi atau penghentian sementara perdagangan selama lebih dari 1 hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan. Jika dilihat pergerakan sahamnya sepanjang 2024 berjalan (YtD), saham BREN naik 9,70%. Namun jika dilihat lajunya sejak masuk PPK, saham BREN telah turun 19,01%.

SUPR

Selanjutnya ada PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (SUPR) emiten yang bergerak di bidang menara telekomunikasi ini tercatat punya nilai kapitalisasi pasar Rp44,51 triliun. SUPR masuk ke dalam PPK sejak 30 April 2024 karena tidak memenuhi syarat free float dan memiliki likuiditas rendah serta transaksi rata-rata harian kurang dari 10.000 selama 6 bulan terakhir. Terpantau saham SUPR turun 1,94% sejak awal 2024 (YtD) dan tak bergerak sejak masuk PPK.

MASA

Di posisi berikutnya ada PT Multistrada Arah Sarana Tbk. (MASA) dengan kapitalisasi pasar Rp43,99 triliun. Emiten produsen ban kendaraan bermotor ini masuk dalam PPK sejak 31 Januari 2024 karena tidak memenuhi syarat free float. Pergerakan saham MASA sepanjang 2024 berjalan (YtD) tercatat menguat 13,39%. Adapun sejak masuk ke dalam PPK saham MASA naik 23,08%.

FREN

Berikutnya ada PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dengan kapitalisasi pasar Rp17,59 triliun. Emiten telko Sinarmas Group ini tercatat dalam PPK sejak 31 Mei 2024 karena harga rata-rata selama 6 bulan terakhir kurang dari Rp51. Saham FREN mencatatkan penurunan 26,00% sepanjang tahun berjalan (YtD), sedangkan sejak masuk ke dalam PPK sahamnya telah 17,78%.

FASW

Selanjutnya ada PT Fajar Surya Wisesa Tbk. (FASW) dengan kapitalisasi pasar Rp13,63 triliun. Emiten kertas ini tercatat dalam PPK sejak 31 Januari 2024 karena tidak memenuhi syarat free float serta memiliki likuiditas yang rendah dan transaksi rata-rata harian kurang dari 10.000 selama 6 bulan terakhir. Saham FAWS turun 5,17% sejak awal 2024 (YtD) dan terkoreksi 5,17% sejak masuk ke dalam PPK.

SMCB

Di posisi berikutnya ada PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. (SMCB) dengan kapitalisasi pasar Rp11,73 triliun. Emiten semen ini masuk dalam PPK sejak 31 Januari 2024 karena tidak memenuhi syarat free float. Saham SMCB sudah turun 2,60% sejak awal tahun 2024 (YtD). Namun,  sejak masuk ke dalam PPK emiten SMCB naik tipis 0,38%.

BSWD

Kemudian ada PT Bank Of India Indonesia Tbk. (BSWD) dengan kapitalisasi pasar Rp11,44 triliun. Emiten bank ini masuk ke dalam PPK sejak 31 Mei 2022 karena memiliki likuiditas yang rendah dan transaksi rata-rata harian kurang dari 10.000 selama 6 bulan terakhir. Saham BSWD terpantau melonjak 149% sejak awal 2024 (YtD), sedangkan sejak masuk ke dalam PPK emiten BSWD menguat 77,14%.

CITA

Di urutan terakhir saham dalam PPK dengan kapitalisasi pasar terbesar ditempati oleh PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA) dengan nilai market cap Rp9,11 triliun. Emiten yang bergerak di sektor penambangan bauksit serta pengolahan dan pemurnian alumina ini tercatat di PPK sejak 31 Januari 2024 karena tidak memenuhi syarat free float. Adapun saham CITA naik 9% sejak awal 2024 (YtD). Namun bergerak turun 13,21% sejak masuk ke dalam PPK.

(Baca: Data Emiten dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK) BEI Berdasarkan Sektor pada 3 Juni 2024)

Disclaimer: artikel data ini tidak bertujuan untuk merekomendasikan pembaca untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. DataIndonesia.id tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags