Pembukaan IHSG 7 Sept 2023: Indeks Berfluktuasi di Awal Dagang

IHSG dibuka naik tipis tetapi berbalik turun pada pukul 09.01 WIB. Jam perdagangan bursa juga dibuka dengan pencatatan saham perdana BABY. Sementara itu, bursa global melemah setelah kuatnya aktivitas sektor jasa di AS kembali memicu spekulasi kenaikan suku bunga The Fed lebih tinggi dan lebih lama.

Gita Arwana Cakti

Sep 7, 2023 - 9:03 AM

Data

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka naik 0,002% ke level 6.996,09 pada perdagangan Kamis (7/9). Namun pada pukul 09.01 WIB indeks berbalik turun 0,12% atau 8,58 poin ke level 6.987,37.

Tercatat 152 saham berhasil menguat, 108 saham melemah, dan 257 saham stagnan. Kapitalisasi pasar pagi ini tercatat berada di posisi Rp10.354,18 triliun. Sebelumnya, IHSG ditutup menguat tipis 0,06% atau 4,25 poin menuju level 6.995,95.

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan satu emiten baru yakni PT Multitrend Indo Tbk. (BABY) yang resmi mencatatkan saham perdananya dalam rangka penawaran umum perdana (IPO). BABY menjadi perusahaan tercatat ke-65 yang tercatat di BEI pada 2023.

Dalam aksi korporasinya, pemilik lisensi gerai Mothercare di Indonesia itu akan melepas sebanyak 20,01% atau 534 juta saham ke publik dengan nilai nominal Rp25 per saham. Emiten yang bergerak di industri perlengkapan bayi dan anak itu pun telah mematok harga IPO sebesar Rp266 per saham dan mengincar dana segar Rp142,04 miliar dari aksi korporasinya.

(Baca: Emiten IPO: Resmi Tercatat, Ini Laju Saham Perdana BABY)

Sementara itu, pergerakan IHSG pagi ini terjadi di tengah bursa global yang cenderung tertekan. Di Asia, indeks Strait Times tercatat melemah 0,51%, indeks Shanghai Composite turun 0,36%, indeks Hang Seng terkoreksi 0,72%, dan indeks Nikkei 225 turun 0,26% pada pukul 08.55 WIB. 

Di Amerika Serikat, indeks Nasdaq Composite ditutup jatuh 1,06%, indeks S&P 500 terkoreksi 0,70%, dan Dow Jones turun 0,57% pada perdagangan Rabu (6/9).

Bursa global melemah setelah rilis data sektor jasa AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu kekhawatiran bahwa inflasi yang masih stabil akan menyebabkan suku bunga The Fed tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Institute for Supply Management (ISM) mengatakan pada Rabu bahwa Indeks Manajer Pembelian non-manufaktur di Negeri Paman Sam meningkat ke level 54,5 bulan lalu. Angka tersebut melampaui ekspektasi di level 52,5. Sementara itu, ukuran harga yang dibayarkan oleh bisnis sektor jasa untuk input meningkat.

Sementara dari Asia, pasar mengantisipasi tekanan lain dalam aktivitas perdagangan China. Rilis data cadangan devisa China serta angka perdagangan Australia juga turut menjadi perhatian pasar begitu pun dengan rencana pertemuan para menteri keuangan dan energi G20 di India menjelang pertemuan puncak para pemimpin akhir pekan ini. Di sisi lain, Bank sentral Malaysia diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 3,00% untuk pertemuan kedua.

(Baca: Terdongkrak Sektor Energi, IHSG Naik Tipis (6 September 2023))

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags