Pembukaan IHSG: Indeks Fluktuatif di Awal Dagang (23 Juni 2023)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka stagnan di level 6.652,26 pada perdagangan hari ini, Jumat (22/6). Namun selanjutnya IHSG berfluktuasi terbatas. Pada pukul 09.01 WIB indeks menguat 0,03% atau 1,68 poin ke level 6.653,94. Namun sebelumnya indeks sempat melemah ke level 6.645,23.

Gita Arwana Cakti

Jun 23, 2023 - 9:05 AM

Data

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka stagnan di level 6.652,26 pada perdagangan Jumat (22/6). Namun selanjutnya IHSG berfluktuasi terbatas. Pada pukul 09.01 WIB indeks menguat 0,03% atau 1,68 poin ke level 6.653,94. Namun sebelumnya indeks sempat melemah ke level 6.645,23 sesaat setelah pembukaan perdagangan.

Tercatat 149 saham berhasil menguat, 132 saham melemah, dan 247 saham stagnan. Kapitalisasi pasar pagi ini tercatat berada di posisi Rp9.477,85 triliun. Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,75% atau setara 50,36 poin ke level terendah hariannya di 6.652,26.

Pergerakan IHSG terjadi di tengah bursa global yang beragam. Di Asia, indeks Strait Times tercatat melemah 0,76%, indeks Hang Seng jatuh 1,61%, dan indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,33% pada pukul 08.55 WIB. Sementara bursa Shanghai tutup karena libur.

Di Amerika Serikat, indeks Nasdaq Composite ditutup menguat 0,95%, indeks S&P 500 naik 0,37%, sedangkan Dow Jones turun tipis 0,01% pada perdagangan Kamis (22/6).

(Baca: IHSG Turun di Tengah Keputusan Suku Bunga BI (22 Juni 2023))

Penguatan bursa AS terjadi di tengah Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell yang terus mempertahankan sikap hawkish dan menyatakan bahwa bank sentral belum mencapai akhir dari siklus pengetatannya. Namun demikian, The Fed akan melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunga dengan hati-hati.

Powell, yang muncul di hadapan Komite Perbankan Senat untuk kesaksian kebijakan moneter setengah tahunannya, menegaskan kembali pandangannya bahwa lebih banyak kenaikan suku bunga kemungkinan terjadi di bulan-bulan mendatang.

Adapun pasar memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga acuan sekali lagi, bukan dua kali lagi seperti yang tersirat dalam ringkasan pasca pertemuan FOMC. Dalam kesaksiannya di hadapan Kongres, Powell juga menegaskan kembali bahwa mereka akan bergantung pada data dan pelaku pasar memperkirakan inflasi akan lebih cepat menurun. 

Selain The Fed, kebijakan suku bunga sejumlah bank sentral juga menjadi perhatian pasar Asia. Investor terkejut ketika Bank of England menerapkan kenaikan suku bunga 50 basis poin, atau lebih besar dari perkiraan untuk mengatasi inflasi yang tinggi. Hal tersebut dinilai sebagai bukti lebih lanjut bahwa pertumbuhan inflasi yang panas tetap menjadi tantangan ekonomi global.

Namun, BOE tak sendiri. Bank Nasional Swiss juga menaikkan suku bunga kebijakannya dan mengisyaratkan kemungkinan pengetatan lebih lanjut. Adapun bank sentral Norwegia menaikkan suku bunga utamanya ke level tertinggi dalam 15 tahun.

(Baca: Data Historis Suku Bunga Acuan The Fed)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags