Pembukaan IHSG: Indeks Terkoreksi di Awal Dagang (22 Mei 2023)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka stagnan di level 6.700,56 pada perdagangan Senin (22/5). Adapun pada pukul 09.01 WIB indeks berbalik melemah 0,17% atau 11,58 poin ke level 6.688,98.

Gita Arwana Cakti

May 22, 2023 - 9:03 AM

Data

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka stagnan di level 6.700,56 pada perdagangan Senin (22/5). Adapun pada pukul 09.01 WIB indeks berbalik melemah 0,17% atau 11,58 poin ke level 6.688,98.

Tercatat 169 saham berhasil menguat, 131 saham melemah, dan 260 saham stagnan. Kapitalisasi pasar pagi ini tercatat berada di posisi Rp9.521,72 triliun. Sebelumnya, IHSG ditutup ditutup rebound dengan naik 0,56% atau setara 37,45 menuju level 6.700,56.

Pergerakan IHSG pagi ini terjadi di tengah bursa global yang cenderung tertekan. Di Asia, indeks Strait Times tercatat melemah 0,09%, indeks Shanghai Composite naik 0,32%, indeks Hang Seng menguat 0,33%, sedangkan indeks Nikkei 225 turun tipis 0,04% pada pukul 08.58 WIB.

Di Amerika Serikat, ketiga indeks saham utama juga berakhir di zona merah. Indeks Nasdaq Composite ditutup melemah 0,24%. Lalu indeks S&P 500 terkoreksi 0,14% dan Dow Jones turun 0,33% pada perdagangan Jumat (19/5).

Bursa AS melemah setelah negosiasi untuk menaikkan pagu utang AS ditunda. Kecemasan pasar pun kembali meningkat lantaran Amerika Serikat semakin mendekati tenggat waktu untuk menghindari gagal bayar.

Meskipun ketiga indeks saham utama AS terkoreksi pada akhir pekan lalu, tetapi secara mingguan masih mencetak kenaikan ditopang oleh data ekonomi yang solid dan akhir musim laporan keuangan emiten yang lebih baik dari perkiraan.

Sebelumnya pasar juga terus menguat karena meningkatnya optimisme bahwa kesepakatan untuk meningkatkan batas utang US$31,4 triliun dapat dicapai dalam beberapa hari mendatang,

Di sisi lain, prospek suku bunga acuan The Fed yang tetap tidak pasti juga ikut menjadi sorotan. Pada akhir pekan lalu, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dalam diskusi panel mengatakan masih belum jelas apakah kenaikan suku bunga tambahan diperlukan. Hal itu seiring dengan bank sentral yang masih mempertimbangkan dampak kenaikan di masa lalu terhadap masalah baru-baru ini di sektor perbankan.

Sentimen pemberat juga datang dari penyataan Menteri Keuangan AS Janet Yellen yang mengatakan kepada CEO bank pada Kamis lalu bahwa lebih banyak merger bank mungkin diperlukan setelah serangkaian kegagalan bank.

(Baca: (Laporan) Perkembangan Pasar Modal Indonesia Periode April 2023)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags