Sorotan Pasar 20 Sep 23: Aturan Dividen Bank, Menanti Hasil FOMC

Kenaikan ICP dan lifting minyak bumi dalam RAPBN 2024, harga komoditas, aksi korporasi dan IPO emiten, menanti hasil pertemuan FOMC, hingga aturan baru dviden bank umum menghiasi pemberitaan di sejumlah media massa hari ini.

Theresia Gracia Simbolon

Sep 20, 2023 - 9:58 AM

Data

Laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) tak hanya dipengaruhi oleh sisi teknikal saja tetapi juga oleh sentimen dalam dan luar negeri.

Kebijakan ekonomi dan moneter serta dinamika politik sejumlah negara hingga aksi korporasi sejumlah perusahaan menjadi hal-hal yang juga tak luput dari sorotan pasar.

Berdasarkan pantauan DataIndonesia.Id, berikut ini perkembangan pasar modal hingga aksi korporasi yang turut menghiasi pemberitaan di sejumlah media massa.

Bayang-Bayang Risiko Fiskal

Peluang pemerintah untuk mendulang penerimaan negara pada tahun depan terbuka lebar, terutama dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sumber daya alam migas. Hal itu adalah imbas dari penaikan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan lifting minyak bumi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024 yang disepakati antara pemerintah dan Badan Anggaran DPR, Selasa (19/9).

ICP berubah dari US$80 per barel dalam RAPBN 2024 yang diajukan pemerintah menjadi US$82 per barel sesuai kesepakatan. Lifting minyak bumi ditambah dari 625.000 barel per hari (bph) menjadi 635.000 bph. Akibat perubahan kedua asumsi makroekonomi itu, anggaran PNBP sumber daya alam migas ikut naik dari Rp197,8 triliun dalam RAPBN 2024 menjadi Rp207,7 triliun sesuai kesepakatan.

Sumber: Bisnis Indonesia

Harga Beras

Presiden Joko Widodo menargetkan harga beras bisa lebih stabil dalam waktu 3 minggu mendatang, seiring dengan kebijakan pemerintah menggelar operasi pasar beras di tingkat ritel. Pada Selasa (19/9), Bapanas mencatat rata-rata harga beras premium mengalami lonjakan sebesar 3,64%menjadi Rp15.090 per kg, lebih tinggi dari hari sebelumnya. Begitu pun dengan harga rata-rata beras medium yang kini mencapai Rp12.970 per kg, masih di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp10.900 per kg-Rp11.800 per kg. Presiden menegaskan pemerintah melalui Bapanas telah melakukan operasi pasar dengan menggelontorkan beras ke ritel dan Pasar Induk Beras Cipinang untuk mendorong stabilisasi harga beras.

Pada perkembangan lainnya, harga kopi juga meningkat dalam tiga hari perdagangan di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda Brasil, negara pemasok utama. Kondisi itu membawa risiko bagi tanaman untuk panen berikutnya. Harga kopi meningkat dalam tiga hari perdagangan di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda Brasil, sebagai negara pemasok utama. Kondisi itu membawa risiko bagi tanaman untuk panen berikutnya. Harga kopi arabika dengan kontrak yang paling aktif naik hingga 1,2% menjadi US$1,61 per pon di New York, sementara robusta naik hingga 2,1%.

Sumber: Bisnis Indonesia

Aksi Korporasi Emiten

Anak usaha Grup Pelindo, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) mengungkapkan berbagai rencana ekspansi perseroan untuk mengakselerasi kinerja, di antaranya rencana perluasan lahan, penjajakan kerja sama operasi dengan sejumlah pelabuhan yang dinilai potensial untuk dijadikan hub terminal kendaraan atau menjadi bagian dari terminal satelit IPCC. Perseroan juga berkolaborasi dengan sejumlah pihak untuk meningkatkan aktivitas distribusi kendaraan dalam satu rantai pasok ekosistem otomotif dan lainnya.

Sementara itu, Emiten BUMN konstruksi, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) berencana menggunakan injeksi penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp6 triliun pada 2024 untuk memperkuat struktur modal kerja perseroan. Nantinya PMN tersebut akan digunakan untuk mendukung kelanjutan 41 proyek yang saat ini dikerjakan WIKA dengan nilai estimasi Rp33,3 triliun. Secara terperinci, 41 proyek tersebut mencakup 37 proyek strategis nasional (PSN) dan 4 proyek pembangunan di Ibu Kota negara (IKN) Nusantara.

Sumber: Bisnis Indonesia

(Baca: (Laporan) Perkembangan Pasar Modal Indonesia Agustus 2023)

Penantian Pertemuan FOMC

Kalangan korporasi diproyeksi masih memiliki energi untuk menggalang dana melalui surat utang korporasi pada sisa tahun ini kendati pasar masih dibayangi oleh kelanjutan kebijakan moneter Federal Reserve. Pasar surat utang dibayangi gejolak jangka pendek sejalan dengan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 19-20 September 2023 waktu setempat. Pelaku pasar memperhitungkan peluang bank sentral Amerika Serikat itu yang mempertahankan sikap dengan suku bunga 5,25%-5,5%.

Merespons kondisi tersebut, Bloomberg mencatat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun mencapai 6,74% dan Sun acuan tenor 5 tahun mencapai 6,38%. Dalam perkembangan lain, volatilitas emas berkurang dalam beberapa bulan terakhir dan hanya bergerak tipis di tengah penantian pertemuan FOMC pekan ini. Harga emas di pasar spot naik tipis 0,05% ke level US$1.934,78 per troy ounce pada perdagangan Selasa (19/9) pukul 16.37 WIB. Pada saat yang sama, emas berjangka pengiriman Desember di bursa Comex terungkit 0,14% ke kisaran US$1.956 per troy ounce.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga mulai menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada hari ini dan akan berakhir pada Kamis, 21 September 2023.

Sumber: Bisnis Indonesia

OJK Membatasi Pembagian Dividen Bank

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi merilis aturan anyar yang mengatur tentang ketentuan kebijakan pembagian dividen oleh bank umum sehingga mendorong bisnis berkelanjutan, manajemen risiko dan daya saing. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan OJK menerbitkan aturan baru itu bertolak pada pentingnya tata kelola dalam kegiatan usaha suatu bank. 

Adapun ketentuan OJK ini dituangkan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17/2023 tentang Tata Kelola Bank Umum. Aturan pembagian dividen bank tercantum dalam pasal 108 beleid yang baru dirilis OJK pada Selasa (19/9). Dalam ayat 1 pasal 108 POJK Tata Kelola disebutkan, bank wajib memiliki kebijakan dividen dan mengomunikasikannya kepada pemegang saham.

Aturan ini juga mengatur bank memiliki kewenangan mengusulkan kepada rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk menunda pembayaran dividen yang disetujui, menghentikan pembayaran dividen yang diangsur dan menghentikan pembayaran dividen secara bertahap. Bahkan, bank punya kewenangan menarik kembali pembayaran dividen kepada pemegang saham pengendali, jika bank mengalami permasalahan kondisi keuangan.

Sumber: Bisnis Indonesia dan Kontan

(Baca: 8 Bank dengan Rasio Pembayaran Dividen Tahun Buku 2022 Terbesar)

Koka Indonesia Incar Dana IPO Rp115 Miliar

Perusahaan konstruksi, PT Koka Indonesia Tbk. (KOKA) mengincar dana segar Rp91,56-115 miliar dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) 715,33 juta saham di Bursa Efek Indonesia yang akan digelar pada Oktober mendatang. Perseroan menawarkan IPO di kisaran Rp128-161 per saham. Manajemen Koka dalam prospektus yang dipublikasikan Selasa (19/9) menyebutkan, masa penawaran awal (bookbuilding) berlangsung pada 19-26 September 2023.

Perkiraan masa penawaran umum dijadwalkan pada 2-5 Oktober 2023, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 9 Oktober mendatang. Bertindak sebagai penjamin pekasana emisi efek adalah UOB Kay Hian Sekuritas. Seluruh dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan perseroan sekitar 13,55% untuk belanja modal meliputi pengadaan alat berat baru. Sekitar 86,45% bakal dipakai untuk modal kerja.

Sumber: Investor Daily

(Baca: Deretan Calon Emiten Gelar Book Building September 2023)


Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags