Sorotan Pasar 21 Sep 23: Hasil FOMC, Menanti Keputusan RDG BI

Keputusan The Fed dalam FOMC meeting, menantikan hasil RDG BI, mengejar realisasi lifting migas, perlambatan realisasi pajak, aksi korporasi dan rencana IPO emiten, bursa CPO, realisasi APBN, hingga rekor baru IHSG menghiasi pemberitaan di sejumlah media massa hari ini.

Theresia Gracia Simbolon

Sep 21, 2023 - 9:38 AM

Data

Laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) tak hanya dipengaruhi oleh sisi teknikal saja tetapi juga oleh sentimen dalam dan luar negeri.

Kebijakan ekonomi dan moneter serta dinamika politik sejumlah negara hingga aksi korporasi sejumlah perusahaan menjadi hal-hal yang juga tak luput dari sorotan pasar.

Berdasarkan pantauan DataIndonesia.Id, berikut ini perkembangan pasar modal hingga aksi korporasi yang turut menghiasi pemberitaan di sejumlah media massa.

Kerja Keras Lifting Migas

Realisasi lifting migas yang tidak kunjung mencapai target, membuat pemerintah harus mencari cara baru untuk mengatasinya. Apalagi, sebelumnya sudah ada beragam ‘pemanis’ mulai dari insentif baik fiskal maupun nonfiskal, hingga iming-iming skema bagi hasil yang lebih menarik bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Kini pemerintah pun getol mencari investor swasta untuk mengelola potensi hulu migas nasional guna merealisasikan produksi 1 juta barel per hari (bph) minyak dan 12 miliar kaki kubik per hari (BCFD) gas bumi pada 2030, sekaligus memastikan ketahanan energi nasional.

Keterlibatan lebih banyak investor dalam pengelolaan sumber daya minyak dan gas bumi (migas) di Tanah Air menjadi keniscayaan dengan tujuan menambah teknologi dan arus modal di sektor tersebut. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia mengatakan, banyaknya lapangan migas yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero) sebagai badan usaha milik negara atau BUMN tidak menjamin lifting mencapai target. Untuk itu, Presiden Joko Widodo dalam sebuah rapat terbatas menginstruksikan agar potensi migas yang tidak bisa dioptimalkan oleh Pertamina ditawarkan kembali kepada badan usaha yang mungkin dapat mengelolanya lebih baik.

Sumber: Bisnis Indonesia

Realisasi Pajak Terus Melambat

Pertumbuhan penerimaan pajak konsisten di jalur perlambatan karena penurunan signifikan harga komoditas, penurunan nilai impor, dan tidak berulangnya kebijakan pengungkapan pajak sukarela. Kementerian Keuangan merekam realisasi penerimaan pajak Januari-Agustus 2023 sebesar Rp1.246,97 triliun, tumbuh 6,4% year-on-year (YoY). Pertumbuhan ini lebih pelan dari kenaikan kumulatif bulan-bulan sebelumnya.

Secara terperinci, realisasi pajak penghasilan (PPh) nonmigas tercatat Rp708,23 triliun, tumbuh 7,06% YoY. Penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) tercatat Rp447,58 triliun, tumbuh 8,14% YoY. Di sisi lain, realisasi PPh migas tercatat Rp49,51 triliun, terkontraksi 10,58% YoY karena dampak moderasi harga minyak bumi. PBB & pajak lainnya juga terkontraksi 12,01% YoY menjadi Rp11,64 triliun akibat pergerseran pembayaran PBB migas. Sejauh ini, realisasi penerimaan pajak telah memenuhi 72,6% target APBN 2023.

Sumber: Bisnis Indonesia

(Baca: Realisasi Penerimaan Pajak Rp1.109,1 Triliun hingga Juli 2023)

BEI Luncurkan Publikasi Emiten Anyar

Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan publikasi statistik baru IDX New Listing Information untuk memberikan informasi kepada publik terkait emiten anyar. Direktur   Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI  Irvan Susandy mengatakan  publikasi statistik ini  bertujuan untuk menyediakan  informasi tentang calon  emiten yang akan melantai di Bursa sehingga membantu investor membuat keputusan dan melakukan analisis terkait portofolio  investasinya.

Dalam perkembangan lain, emiten tambang terdiversifikasi PT Indika Energy Tbk. (INDY) mempertimbangkan peluang untuk entitas anaknya, PT Ilectra Motor Group (IMG) yang merupakan produsen motor listrik Alva, untuk melantai di Bursa melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Adapun PT Pulau Subur Tbk. (PTPS) dan PT Logisticsplus International Tbk. (LOPI) juga mengincar dana segar puluhan miliar rupiah untuk ekspansi dan modal kerja.

Pulau Subur bersiap menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dengan membidik dana segar hingga Rp92,7 miliar. Sementara  itu, PT  Logisticsplus International Tbk. (LOPI) menawarkan saham di rentang Rp100 hingga Rp150 dalam IPO. Alhasil, LOPI berpeluang meraih dana segar maksimal Rp45 miliar.

Sumber: Bisnis Indonesia

(Baca: Deretan Calon Emiten Gelar Book Building September 2023)

Indonesia Sambut Kehadiran Bursa CPO

Jika tak ada aral melintang, Bursa Berjangka Penyelenggara Pasar Fisik Minyak Sawit Mentah (crude palm oil/CPO) atau Bursa CPO bakal diluncurkan oleh Badan Pengawas Berjangka Komoditi (Bappebti) pada awal Oktober, setelah gagal dirilis pada Juni. Kepala Biro  Pembinaan  dan   Pengembangan Perdagangan Berjangka   Komoditi  (PBK)  Tirta Karma Senjaya mengatakan saat ini peluncuran Bursa CPO sedang dikoordinasikan dengan  jadwal Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dan diperkirakan terlaksana pada awal Oktober 2023.

Menurut Tirta, sudah ada bursa berjangka  komoditas yang telah mendaftarkan diri sebagai penyelenggara pasar fisik CPO. Namun, dia enggan mengatakan secara spesifik siapa penyelenggara bursa berjangka yang dimaksud. Saat ini terdapat dua bursa berjangka yang sudah berjalan yakni PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ/JFX) dan PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI/ICDX). Kedua bursa ini juga memperdagangkan produk CPO dan turunannya.

Sumber: Bisnis Indonesia

Letupan Tenaga Pasar Saham

Pasar saham Indonesia sedang unjuk gigi.Setelah terombang-ambing di bawah 7.000 selama lebih dari 9 bulan terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya mampu menembus level psikologis tersebut. Pada Rabu (20/9), indeks komposit konsisten melaju di teritori hijau dan ditutup menguat 0,45% ke level 7.011,68. Untuk pertama kalinya pada 2023, IHSG akhirnya mampu menembus level 7.000 pada akhir perdagangan.

Mengutip Bloomberg, IHSG sudah meninggalkan level 7.000 sejak 5 Desember 2022 setelah ditutup di level 7.019,63 pada perdagangan 2  Desember 2022. Namun, posisi IHSG saat ini masih jauh dari level all time high 7.318 yang tercatat pada akhir perdagangan 13 September 2022.  

Tenaga IHSG pada perdagangan kemarin didorong oleh saham emiten-emiten big caps. Saham TLKM, misalnya, menjadi top leaders IHSG dengan penguatan 2,1%. Disusul saham BMRI yang naik 1,3%, BBCA 0,8%, BBNI 1,3%, dan ADRO menanjak 2,1%. 

Keberhasilan IHSG menembus level psikologis 7.000 juga ditopang penguatan dari mayoritas saham, terutama dari sektor barang konsumer nonprimer (siklikal) dan finansial. Associate Direntor of Research and Investment Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus mengatakan sektor konsumer siklikal menguat 1,22% dan menjadi sektor yang paling kuat di perdagangan. Sementara di posisi terendah adalah sektor basic materials sebesar 0,32%. 

Sumber: Bisnis Indonesia dan Investor Daily

(Baca: Pembukaan IHSG 21 Sept 2023: Indeks Berfluktuasi di Awal Dagang)

Realisasi APBN Bisa Meleset dari Target

Sejumlah asumsi dasar ekonomi makro tahun ini berpotensi meleset. Hal tersebut tentu akan berdampak terhadap kinerja PABN 2023 dan bisa merembet ke anggaran tahun depan. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, dalam APBN 2023, pemerintah memasang target 5,3%, realisasinya hanya 5,1%.

Kemudian nilai tukar rupiah yang ditargetkan Rp14.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Realisasinya, rerata secara year to date rupiah di level Rp15.109 per dolar AS. Selanjutnya harga minyak mentah Indoensia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang ditargetkan US$90 per barel, realisasi rerata secara ytd di level US$76,1 per barel.

Sumber: Kontan

Kebijakan Moneter The Fed hingga BI

Dari dalam negeri, pelaku pasar tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait kebijakan suku bunga acuannya yang akan diumumkan pada hari ini. Sejumlah analis memperkirakan BI akan kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

Di sisi lain, Federal Reserve dalam FOMC meeting yang berakhir pada 20 September waktu setempat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga utama dan merevisi proyeksi ekonomi lebih tinggi. The Fed juga mempertahankan sikap hawkish dengan mengingatkan bahwa perjuangan melawan inflasi masih jauh dari selesai.

Pengumuman The Fed disertai dengan Ringkasan Proyeksi Ekonomi dan dot plot, yang memperkirakan adanya kenaikan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin tahun ini, dan mencapai puncaknya pada kisaran 5,50%-5,75%.Sementara itu, Ringkasan Proyeksi Ekonomi menyerukan penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin pada tahun depan. Proyeksi yang diperbarui melihat tingkat suku bunga The Fed (Fed Fund Rate) akan turun tipis menjadi 5,1% pada akhir tahun depan, dan akan menjadi 3,9% pada akhir 2025.

Selain kebijakan Federal Reserve dan Bank Indonesia, sejumlah bank sentral di Asia yakni bank sentral Filipina dan Taiwan juga diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya. Selanjutnya investor menantikan pernyataan kebijakan sebagai petunjuk mengenai pergerakan di masa depan.

Sumber: Bisnis Indonesia dan Reuters

(Baca: Data Historis Suku Bunga Acuan The Fed)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags