Sorotan Pasar 23 Juni 23: Kebijakan Moneter hingga Gelombang PHK

Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter, hasil RDG BI, maraknya obligasi korporasi, perkiraan gelombang PHK di Start-up, hingga pernyataan hawkish Ketua The Fed Jerome Powell dan kebijakan moneter bank sentral global menghiasi pemberitaan di sejumlah media massa hari ini.

Theresia Gracia Simbolon

Jun 23, 2023 - 9:57 AM

Data

Laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) tak hanya dipengaruhi oleh sisi teknikal saja tetapi juga oleh sentimen dalam dan luar negeri. 

Kebijakan ekonomi dan moneter serta dinamika politik sejumlah negara hingga aksi korporasi sejumlah perusahaan menjadi hal-hal yang juga tak luput dari sorotan pasar.

Berdasarkan pantauan DataIndonesia.Id, berikut ini perkembangan pasar modal hingga aksi korporasi yang turut menghiasi pemberitaan di sejumlah media massa.

Uji Keselarasan Fiskal-Moneter

Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter kembali dinanti guna menjaga konsistensi pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, akselerasi ekonomi masih terbatas sehingga butuh proteksi lebih kuat. Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan berkomitmen meningkatkan fleksibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sehingga mampu menjadi penyangga tatkala ada guncangan.

Adapun dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan setidaknya selama lima bulan terakhir. Demikian pula dengan insentif makroprudensial yang digadang-gadang ikut memberikan gairah bagi sektor riil.

Dalam Rapat Dewan Gubernur yang berakhir 22 Juni 2023, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 5,75%. BI juga akan menambah stimulus makroprudensial melalui peningkatan dan penajaman insentif likuiditas kepada bank penyalur kredit. Stimulus itu akan menyasar pada sektor penghiliran yakni pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan, serta perumahan dan pariwisata.

Sumber: Bisnis Indonesia

(Baca: BI Tetap Tahan Suku Bunga Acuan di Level 5,75% pada Juni 2023)

BBRI Akan Keluar dari BRIS

Kementerian BUMN akan menetapkan bahwa PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) keluar dari  PT Bank Syariah Indoensia Tbk. (BRIS) pada tahun ini, untuk membuka pintu bagi investor baru. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan pintu bagi investor anyar berawal dari pelepasan saham milik BRI dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) di tubuh BSI. Saat ini, kepemilikan saham perusahaan dikuasai oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan porsi mencapai 51,47%. Kemudian, BNI menguasai 23,2%, dan BRI mempunyai 15,38%. Adapun, porsi BBRI telah terdilusi setelah pelaksanaan rights issue tahun lalu dari 17,25%.  

Sumber: Bisnis Indonesia

Penerbitan Surat Utang

Pencari dana murah mengincar Bursa untuk menerbitkan surat utang korporasi di tengah mahalnya biaya dana yang ditawarkan industri perbankan dan menguatnya pasar surat utang. Di tengah langkah Bank Indonesia menahan suku bunga acuannya 5 bulan beruntun, korporasi pencari dana melihat opsi lain yakni surat utang sejalan dengan penguatan pasar obligasi yang membuat kupon acuan lebih rendah.  

Pada kesempatan bank sentral mengumumkan keputusannya, Bloomberg mencatat bahwa imbal hasil  Surat Utang Negara (SUN) acuan melandai yang dipimpin oleh tenor panjang. SUN acuan tenor 10 tahun memiliki imbal hasil 6,27%. Lalu, imbal hasil SUN acuan tenor 5 tahun sebesar 5,92% dan 5,73% untuk tenor 3 tahun. Adapun imbal hasil yang ditawarkan sejumlah seri obligasi korporasi berperingkat tinggi juga terpantau rendah.

Dari data transaksi obligasi hingga Juni 2023, instrumen yang ramai diperdagangkan menawarkan kupon 3,95% hingga 6,5% untuk tenor kurang dari setahun sampai 2 tahun.  Sementara itu, hingga 9 Juni 2023 tercatat ada sejumlah perusahaan yang tengah berencana menerbitkan obligasi di antaranya 22 perusahaan di sektor finansial, 6 perusahaan di sektor industri, dan 3 perusahaan di sektor energi.

Sumber: Bisnis Indonesia

(Baca: 8 Obligasi Korporasi Terbesar yang Jatuh Tempo hingga Akhir 2023)

Pertumbuhan Kredit Perbankan Meningkat

Laju pertumbuhan kredit perbankan pada Mei 2023 kembali meningkat, setelah mencatat tren perlambatan sejak awal tahun hingga April lalu. Bank Indonesia (BI) mencatat, portofolio kredit perbankan tumbuh sekitar 9,39% secara tahunan pada periode tersebut. Kenaikan terjadi pada semua jenis kredit seperti sektor jasa dunia usaha, sektor pertambangan, perindustrian dan jasa sosial.

Meskipun lajunya sudah meningkat, namun pertumbuhan kredit per Mei masih lebih rendah dari capaian per Maret yang tumbuh 9,93% secara tahunan. Adapun pada April, kredit perbankan hanya tumbuh 8,08%.

Sumber: Kontan

Gelombang PHK di Startup 

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada usaha rintisan berbasis teknologi (startup) di tingkat global yang juga akan berimbas ke Indonesia diperkirakan masih mungkin berlanjut, bahkan hingga 2024. Langkah ini terpaksa dilakukan oleh para pengelola startup di tengah upaya mengefisienkan bisnis, memperbaiki fundamental keuangan, serta karena kesulitan mencari pendanaan (fund-raising) untuk ekspansi bisnis. Bahkan, tindakan ekstrem bisa dilakukan sampai menutup usaha.

Seperti diberitakan, OLX Group baru saja mengumumkan PHK terhadap 800 karyawan, Grab sebanyak 1.000 karyawan, dan Uber 200 karyawan. Pada Maret lalu, GoTo juga telah mengumumkan PHK terhadap 600 karyawan. Pada Desember 2022, JD.ID mengumumkan PHK terhadap 200 karyawan yang dilanjutkan dengan penutupan usahanya di Indonesia dan Thailand pada Maret 2023. Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan startup berkelas unicorn yang memiliki valuasi minimal US$ 1 miliar atau sekitar Rp15 triliun.

Sumber: Investor Daily

(Baca: 204.665 Karyawan Startup Kena PHK sejak Januari-Mei 2023)

Perkembangan Bursa Global

Bursa AS ditutup cenderung menguat, sedangkan Bursa Asia Melemah. Indeks Strait Times tercatat melemah 0,76%, indeks Hang Seng jatuh 1,61%, dan indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,33% pada pukul 08.55 WIB. Adapun indeks Nasdaq Composite ditutup menguat 0,95%, indeks S&P 500 naik 0,37%, sedangkan Dow Jones turun tipis 0,01% pada perdagangan Kamis (22/6).

Sejumlah sorotan pelaku pasar adalah Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell yang terus mempertahankan sikap hawkish dan menyatakan bahwa bank sentral belum mencapai akhir dari siklus pengetatannya. Namun demikian, The Fed akan melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunga dengan hati-hati. 

Selain The Fed, kebijakan suku bunga sejumlah bank sentral juga menjadi perhatian pasar Asia. Investor terkejut ketika Bank of England menerapkan kenaikan suku bunga 50 basis poin, atau lebih besar dari perkiraan untuk mengatasi inflasi yang tinggi. Hal tersebut dinilai sebagai bukti lebih lanjut bahwa pertumbuhan inflasi yang panas tetap menjadi tantangan ekonomi global.

Namun, BOE tak sendiri. Bank Nasional Swiss juga menaikkan suku bunga kebijakannya dan mengisyaratkan kemungkinan pengetatan lebih lanjut. Adapun bank sentral Norwegia menaikkan suku bunga utamanya ke level tertinggi dalam 15 tahun.

Sumber: Reuters

(Baca: Pembukaan IHSG: Indeks Fluktuatif di Awal Dagang (23 Juni 2023))

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags