Terkoreksi Empat Hari Beruntun, IHSG Tinggalkan 7.100

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu (28/9) dengan kembali parkir di zona merah. IHSG tertekan 0,5% atau 35,42 poin ke level 7.077,03.

Dyah Ayu Kartika

Sep 28, 2022 - 5:00 PM

Data

Menutup perdagangan Rabu (28/9), indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali parkir di zona merah untuk hari keempat. IHSG tertekan 0,5% atau 35,42 poin ke level 7.077,03. 

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG berfluktuasi pada rentang harian terendah di 7.073,47 dan tertinggi pada 7.156,98. Seluruh indeks sektoral mengalami koreksi dan dipimpin oleh sektor barang baku yang melemah 1,88%, diikuti sektor perindustrian dan transportasi yang keduanya terkoreksi 1,77%. 

Tercatat hanya 147 saham yang berhasil parkir di zona hijau, 391 saham terkoreksi, dan 148 saham lainnya ditutup stagnan. Kapitalisasi pasar berada di posisi Rp9.320,7 triliun dan volume saham yang ditransaksikan sebanyak 23,26 lembar saham dengan nilai Rp12,45 triliun.

Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan secara volume mencapai 3,48 miliar saham dengan nilai transaksi Rp471,59 miliar. Adapun saham BUMI parkir di zona merah dengan ditutup melemah 5,71% ke level 132.

Sejumlah saham big caps yang terkoreksi antara lain PT Astra International Tbk. (ASII) yang melemah 2,16% menuju 6.800. Lalu saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang terkoreksi 1,2% ke 33.000 dan saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) yang turun 1,02% menuju level 3.870. 

Di tengah lesunya IHSG, saham emiten rokok justru melejit ke zona hijau dengan saham PT H.M Sampoerna Tbk. (HMSP) terkerek hingga 3,95% ke 920 dan saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) naik pesat 6,78% menjadi 24.400.

Dari dalam negeri, kurs rupiah terhadap dolar AS melemah tajam akibat pelaku pasar yang mencemaskan ancaman resesi global pada tahun 2023. Terpantau pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup ke level Rp15.267 per dolar AS atau melemah 0,95% (143 poin). Kenaikan dolar AS juga imbas dari imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang naik menjadi 4% untuk pertama kalinya sejak 2010. Semenata imbal hasil obligasi untuk tenor 2 tahun mencapai 4,29%.

Pelemahan IHSG juga sejalan dengan bursa saham AS, Wall Street dimana Indeks S&P 500 dan Dow Jones masih berada dalam tekanan yang mengalami koreksi masing-masing 0,21% dan 0,43%. Bank sentral AS, Inggris, dan Eropa kompak mengerek suku bunga acuan mereka. The Fed sebagai otoritas moneter paling kuat di dunia bahkan sudah mengerek suku bunga acuan sebanyak 300 basis poin (bps) sejak Maret 2022

(Baca: IHSG Kembali Terkoreksi, Nada Hawkish The Fed Masih Bebani Pasar)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags