Profil Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah Presiden ke-4 Republik Indonesia periode 1999-2001.

24 Jun 2022 - 06.48Profil
Profil Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid atau kerap dipanggil Gus Dur adalah Presiden ke-4 Republik Indonesia. Pria kelahiran Jombang, 7 September 1940 ini merupakan anak pertama dari enam bersaudara pasangan KH. Wachid Hasyim dan Sholehah. 

Ayah Gus Dur merupakan Menteri Agama pada 1949. Sedangkan, ibunya adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang.

Garis keturunan Gus Dur termasuk keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim di Indonesia. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyhari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). 

Sedangkan, kakek dari ibunya, KH. Bisri Syansuri merupakan pendiri sekaligus pengajar pesantren pertama untuk kelas perempuan di Indonesia bernama Pesantren Denanyar Jombang. Adapun, buyut Gus Dur adalah Tan Kim Han, seorang Tionghoa yang menikah dengan Tan A Lok, saudara pendiri Kerajaan Demak, Raden Patah.

Saat Gus Dur berusia empat tahun, keluarganya pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya yang ditunjuk sebagai ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada 1940. Pada 1945, keluarga Gus Dur kembali ke Jombang dikarenakan adanya perang Indonesia mempertahankan kedaulatannya melawan Belanda.

Pada 1949, keluarga Gus Dur kembali ke Jakarta saat ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Namun, ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil pada 1953.

Tahun 1954, Gus Dur mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Yogyakarta karena tidak naik kelas di Jakarta. Setelah lulus SMP pada 1957, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Pesantren Tegalrejo Magelang.

Selanjutnya, Gus Dur pindah bersekolah ke Pesantren Tambakberas Jombang pada 1959. Sembari bersekolah, beliau juga bekerja sebagai guru madrasah dan jurnalis Majalah Horizon serta Majalah Budaya Jaya.

Pada 1959, Gus Dur melanjutkan pendidikan pondoknya di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Pesantren tersebut milik KH Ali maksum, seorang kyai yang dikenal egaliter.

Gus Dur menempuh pendidikan sarjananya dengan beasiswa Kementerian Agama di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir pada 1963. Di sana, Gus Dur mempelajari ilmu Islam dan bahasa Arab.

Namun, kuliahnya hanya berlangsung dua tahun dan lebih banyak dihabiskan dengan jalan-jalan, menonton film, dan membaca. Pendidikan Al-Azhar yang terlalu menekankan metode hafalan dan banyak mengulang pelajaran agamanya di tanah air sangat tidak memuaskannya.

Adapun, kegiatan yang Gus Dur lakukan selama di Mesir menyaksikan kejayaan sosialisme Arab dan tarik ulur kelompok Ikhwanul Muslimin dengan negara. Kedua peristiwa itu mengajarkannya banyak hal berkaitan dengan ideologi Islam.

Pada 1968, Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah di Mesir. Pernikahan ini dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Selama di Mesir, Gus Dur bekerja di Kedutaan Besar Indonesia untuk Mesir. Saat terjadinya Gerakan 30 September (G30S), Kedutaan Mesir mendapat perintah untuk melakukan investigasi terhadap pelajar yang masuk ke ranah politik. Gus Dur saat itu ditugaskan menulis laporan.

Gus Dur kemudian pindah ke Irak pada 1966. Beliau menempuh pendidikan di Universitas Baghdad melalui beasiswa. Selama di Irak, Gus Dur mengikuti Asosiasi Pelajar Indonesia dan sekaligus menulis majalah organisasi tersebut. 

Setelah menyelesaikan pendidikannya pada 9170, Gus Dur pindah ke Universitas Leiden, Belanda. Kendati, ijazah pendidikan beliau dari Irak tidak diakui oleh sistem pendidikan Belanda yang akhirnya membuatnya pindah ke Jerman dan Perancis untuk bersekolah.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru di Fakultas Ushuludin Universitas Tebuireng Jombang pada 1971. Tiga tahun berselang, dia menjadi Sekretaris Pesantren Tebu Ireng.

Pada tahun yang sama, Gus Dur mulai menjadi penulis. Dia kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut, gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak pihak.

Selanjutnya, Gus Dur menjadi pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi (LP3ES) bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren. Kemudian, Gus Dur memberikan materi tentang perhimpunan, pengembangan pesantren dalam masyarakat (P3M) yang dimotori oleh LP3ES.

Pada 1979, Gus Dur pindah ke Jakarta untuk mendirikan Pesantren Ciganjur. Sementara, dia dipercaya sebagai wakil Khatib Syuriah NU pada awal 1980. Di sini, Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan mengenai masalah agama, sosial, dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku, dan disiplin. 

Karier yang dianggap menyimpang dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus NU dan mengundang cibirian adalah ketika Gus Dur menjadi Ketua Juri Festival Film Indonesia (FFI) pada 1986 dan 1987. Posisi itu diembannya karena Gus Dur memiliki kecintaan dan pengetahuan tentang film berkat menempuh pendidikan di Eropa.

Pada 1984, Gus Dur dipilih menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar ke-28 di Pesantren Krapyak, Yogyakarta (1989) dan Muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). 

Jabatan Ketua Umum PBNU kemudian dilepas Gus Dur karena menjadi Presiden Indonesia pada 20 Oktober 1999 menggantikan BJ Habibie. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur yang kontroversial. 

Sebagai contoh, Gus Dur melakukan pendekatan yang lebih simpatik kepada kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengayomi etnis Tionghoa, meminta maaf kepada keluarga PKI yang meninggal dunia dan disiksa, serta membuka hubungan dengan Israel. Selain itu, Gus Dur dikenal sering melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial, salah satunya adalah mengatakan bahwa anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) seperti anak taman kanak-kanak.

Selama kepemimpinannya, Gus Dur memisahkan struktur Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Kepolisian RI (Polri), membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial, serta menerapkan otonomi daerah. Gus Dur juga sempat memberikan ide tentang pencabutan TAP MPRS nomor XXV tahun 1966 tentang pembubaran PKI dan larangan penyebaran paham komunisme.

Adapun, pertumbuhan ekonomi selama masa pemerintahan Presiden Gus Dur tumbuh hingga 4,9% pada 2000. Selanjutnya, rasio gini berhasil turun hingga 0,31% dan menjadi angka terendah dalam 50 tahun.

Pada 23 Juli 2001, Gus Dur resmi berhenti dari jabatannya sebagai presiden dalam Sidang Istimewa MPR. Jabatannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. 

Gus Dur tidak menerima hasil tersebut dan terus bersikeras menjadi presiden dan tetap tinggal di Istana Negara selama beberapa hari. Namun, dia akhirnya pergi ke Amerika Serikat karena masalah kesehatan pada 25 Juli 2001.

Pada 30 Desember 2009, Gus Dur meninggal disebabkan komplikasi penyakit stroke, diabetes, gangguan ginjal, serta penyumbatan arteri darah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Gus Dur dimakamkan di Pemakaman Maqbarah Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang pada 31 Desember 2009.

Sumber : Berbagai Sumber

Update Data lainnya di WA Channel



Editor Artikel Data Indonesia
Nilai keakuratan & kelengkapan data di artikel
Kurang
Baik
Terpopuler