Profil Rosan Perkasa Roeslani

Rosan Roeslani ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi atau CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara. Saat ini ia menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM.

24 Feb 2025 - 08.11Profil
Profil Rosan Perkasa Roeslani

Rosan Roeslani ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi atau CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara./(Sumber foto: Kedutaan Besar Indonesia untuk Amerika Serikat)

Rosan Perkasa Roeslani ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi atau CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara. Hal ini disampaikan oleh Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi seperti dilansir dari laman Bisnis.com

Rosan akan didampingi oleh Dony Oskaria sebagai Chief Operating Officer (COO) dan Pandu Patria Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO). Hal ini ditetapkan usai Presiden Prabowo Subianto meresmikan BPI Danantara sebagai super holding badan usaha milik negara (BUMN) di Istana Merdeka, Jakarta pada Senin (24/2).

Adapun saat ini Rosan Roeslani ia menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM di Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran. Ia dilantik pada 21 Oktober 2024. Melansir dari laman resmi Kementerian Investasi, ia juga sempat dipercaya menjadi Menteri Investasi/Kepada BKPM pada 19 Agustus 2024 menggantikan Bahlil Lahadalia yang digeser menjadi Menteri ESDM.

Sebelumnya, menurut laman Antaranews.com, ia merupakan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat periode 2021 hingga 2023. Pria kelahiran Jakarta, 31 Desember 1968 tersebut merupakan lulusan Antwerpen European University di Belgia pada 1993.

Usai lulus dari Belgia, Rosan memutuskan untuk merantau ke Amerika Serikat. Ia berhasil meraih gelar master di bidang adminsitrasi bisnis dari Oklahoma State University, Amerika Serikat pada 1996.

Selesai menempuh pendidikan master, Rosan pulang ke Indonesia untuk mendirikan perusahaan konsultasi keuangan bernama PT Republik Indonesia Funding atau Finance Indonesia. Pendirian perusahaan itu dilakukan bersama Sandiaga Uno dan Elvin Ramli.

Pada 1997, krisis ekonomi melanda Indonesia yang menyebabkan sejumlah perusahaan bangkrut. Dengan kondisi tersebut, perusahaan milik Roslan berhasil membawa korporasi lain yang terancam bangkrut menjadi sehat kembali lewat pendampingan, restrukturisasi, akuisisi, hingga menjualnya kembali.

Pada 2002, melansir dari laman Tempo.co, PT Republik Indonesia Funding berubah nama menjadi PT Recapital Advisors. Perusahaan tersebut melebarkan sayap bisnisnya ke bidang asurasi, properti, tambang, batu bara, dan media.

Atas kesuksesan karier bisnis tersebut, Roslan menduduki jabatan sebagai Presiden Komisaris di Komite Investasi Recapital Asset Management periode 2002-2003. Kemudian, ia dipercaya menjabat Komisaris Sriboga Raturaya periode 2003-2008, Kepala Pemantauan Kreditur Capitalinc Finance Tbk. periode 2003-2005, dan Komisaris Kaltim Prima Coal periode 2003-2007.

Pada 2005, Rosan menduduki jabatan sebagai Presiden Komisaris PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk. (Bank BTPN) hingga tahun 2007. Setahun kemudian, ia diamanahkan sebagai Dewan Penasehat PT Lupita Amanda dan Komisaris Lativi Mediakarya atau TV One.

Setelah itu, Rosan diamanahkan untuk menjabat sebagai Direktur Non-Eksekutif BUMI Plc periode 2010-2012, Presiden Direktur Berau Coal periode 2010-2013, dan Presiden Direktur Berau Coal Energy periode 2010-2013. Kemudian, ia diangkat menjadi Wakil Ketua Umum Bidang Perbankan dan Finansial di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) pada 2010 sampai 2015.

Pada 2015, Roslan dipercaya menjabat sebagai  Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, dan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABBSI). Setelahnya, ia menjabat sebagai Ketua Umum Kadin periode 2015-2021.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemudian menunjuk Roslan untuk menduduki jabatan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Ia resmi dilantik sebagai Dubes pada 25 Oktober 2021. 

Sumber : Berbagai Sumber

Update Data lainnya di WA Channel



Editor Artikel Data Indonesia
Nilai keakuratan & kelengkapan data di artikel
Kurang
Baik
Terpopuler