Pemerintah menetapkan rata-rata kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 12% pada 2022. Kenaikan cukai rokok ini lebih rendah dibandingkan pada tahun lalu yang mencapai 12,5%.
Kenaikan cukai rokok tersebut mengikuti tren rata-ratanya yang berkisar 8%-13% sejak 2012. Pengecualian terjadi pada 2020 lantaran angkanya melonjak hingga 23%.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, kenaikan CHT bertujuan mengendalikan konsumsi rokok, khususnya di kalangan anak dan remaja. Kebijakan itu pun tak hanya mempertimbangkan masalah kesehatan, tapi juga isu perlindungan buruh, petani, dan industri rokok.
Meski demikian, rata-rata kenaikan cukai rokok sebesar 12% pada 2022 tak berlaku untuk sigaret kretek tangan (SKT). Jenis rokok tersebut hanya mengalami kenaikan cukai sebesar 4,5%.
Berikut rincian kebijakan cukai rokok pada 2022:
1. Sigaret Putih Mesin (SPM):
a. SPM golongan I: 13,9%
b. SPM golongan IIA: 12,4%
c. SPM golongan IIB: 14,4%
2. Sigaret Kretek Mesin (SKM):
a. SKM golongan I: 13,9%
b. SKM golongan IIA: 12,1%
c. SKM golongan IIB: 14,3%
3. Sigaret Kretek Tangan
a. SKT 1A 3,5%
b. SKT IB 4,5%
c. SKT II 2,5%
d. SKT III 4,5%
(Baca: Industri Rokok Berbalik Positif pada Kuartal III-2021)