Indeks Dolar AS Cetak Rekor, Dipicu Pernyataan The Fed dan Putin

Indeks dolar AS menyentuh level tertinggi baru dalam dua dekade terakhir, terdorong oleh sikap hawkish The Fed dan pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Gita Arwana Cakti

Sep 22, 2022 - 12:00 PM

Data

Indeks dolar AS melanjutkan penguatannya untuk hari ketiga menyusul keputusan bank sentral AS, Federal Reserve, yang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (Bps). Penguatan indeks dolar AS bahkan menyentuh level tertinggi baru dalam dua dekade terakhir.

Indeks dolar AS berjangka untuk kontrak Desember 2022 terpantau melejit 0,95% ke level 111,392 pada perdagangan Kamis (22/9) pukul 11.25 WIB. Indeks dolar AS menguat setelah bergerak pada rentang 111,18-111,54. Adapun kenaikan ini mengakumulasi penguatan yang telah terjadi sejak 20 September 2022 dengan akumulasi kenaikan 1,88%.

Sementara itu, jika melihat pergerakan sejak awal tahun ini, indeks dolar AS telah terapresiasi 16,51% dan melonjak 19,52% dalam setahun terakhir. Adapun indeks dolar AS terakhir kali menyentuh level 111 pada 17 Juni 2002. Indeks dolar AS tersebut mengukur mata uang terhadap enam mata uang pesaingnya termasuk euro, sterling, dan yen.

Seiring penguatan tajam indeks dolar AS, nilai rupiah terpantau terus tertekan. Pada pukul 11.47 WIB, mata uang Garuda itu melemah 0,19% ke Rp15.026 per dolar AS. 

Mengutip Reuters, indeks dolar AS mencuat ke level tertinggi baru dua dekade versus mata uang utama salah satunya ditopang oleh potensi hawkish Federal Reserve terkait suku bunga acuannya kedepan setelah menaikkan Fed Funds Rate sebanyak 75 basis poin dalam rapat FOMC yang berakhir pada 21 September 2022.

Selain itu, penguatan Dolar AS juga ikut terdongkrak oleh aksi Presiden Rusia Vladimir Putin yang memerintahkan mobilisasi pertama negara itu sejak Perang Dunia Kedua.

Adapun The Fed telah memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin ke level 3%-3,25% seperti yang telah diperkirakan pasar. Namun, The Fed mengeluarkan proyeksi baru yang menunjukkan suku bunga acuan bisa meningkat hingga 4,6% pada tahun depan.

Sementara itu, dolar AS sebagai aset safe-haven sudah mulai diburu setelah setelah Putin mengumumkan rencana memanggil pasukan cadangan untuk berperang di Ukraina dan mengatakan Moskow akan menanggapi dengan kekuatan dari semua persenjataannya yang luas jika Barat mengejar apa yang disebutnya "pemerasan nuklir" atas konflik di negara itu.

(Baca: Menanti Hasil Rapat FOMC, Harga Emas Global Menguat)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags