Usai Tertekan Tiga Hari, Harga Aluminium Rebound

Harga aluminium rebound pada penutupan perdagangan Selasa (31/1). Kondisi ini terjadi setelah tertekan selama tiga hari beruntun akibat penumpukan logam Rusia di gudang LME dan pertumbuhan inventaris di China karena lesunya permintaan setelah Tahun Baru Imlek.

Sarnita Sadya

Feb 1, 2023 - 9:40 AM

Data

Harga aluminium rebound dan berakhir di zona hijau pada penutupan perdagangan Selasa (31/1). Berdasarkan data di London Metal Exchange (LME), harga aluminium tercatat naik 2,22% ke level US$2.647,00/ton pada penutupan perdagangan kemarin.

Harga aluminium menguat setelah bergerak di rentang US$2.558,50/ton-US$2.652,00/ton. Adapun, penguatan terjadi setelah harga logam dasar tersebut tertekan selama tiga hari perdagangan beruntun dengan penurunan akumulatif 2,61% pada 26-30 Januari 2023.

Jika melihat pergerakan sepanjang tahun berjalan, harga aluminium terpantau naik 11,31%. Sementara, harga komoditas logam dasar tersebut mencatatkan penurunan 14,13% dalam setahun terakhir.

Sebelumnya, harga aluminium sempat terus tertekan di tengah penumpukan logam asal Rusia di gudang LME. Selain itu, inventaris aluminium di China juga meningkat di tengah masih lesunya permintaan setelah Tahun Baru Imlek.

Melansir Reuters, perdagang komoditas Glencore telah mengirimkan 40.000 ton aluminium Rusia ke gudang LME yang terletak di pelabuhan Gwangyang, Korea Selatan. Pengiriman tersebut menyebabkan bertambahnya penumpukan logam Rusia. Hal itu pun memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan harga patokan LME. 

Adapun perusahaan aluminium Rusia, Rusal, telah menyumbang logamnya sebanyak 6% dari pasokan global. Meskipun hal tersebut tidak menjadi sasaran sanksi terhadap Rusia setelah invansi ke Ukraina, beberapa pembeli memilih untuk tidak memperbaharui kontrak pembelian aluminium Rusal tersebut.

Di sisi lain, persediaan sosial ingot aluminium di delapan pasar utama China tercatat meningkat. Melansir Shanghai Metal Market (SMM), persediaan tersebut berjumlah 986.000 metrik ton per 30 Januari 2023. Angka itu naik 242.000 metrik ton dari angka sebelum Tahun Baru Imlek dan 52.000 metrik ton dari hari pertama setelah liburan Imlek pada 28 Januari 2023.

Jika dibandingkan dengan akhir tahun lalu, persediaan tersebut lebih tinggi 493.000 metrik ton dan bertambah 260.000 metrik ton dari periode yang sama tahun lalu. Selama liburan Tahun Baru Imlek, perdagangan cukup sepi sementara kargo terus berdatangan. Hal tersebut membuat akumulasi persediaan mencapai 189.000 metrik ton pada 19-28 Januari 2023.

(Baca: Harga Aluminium Menguat, Dipicu Optimisme Pemulihan China)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags