IHSG Ditutup Menguat, Sektor Keuangan Paling Ciamik

Pada Kamis (21/4), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melaju ke zona hijau berkat kenaikan harga saham bank-bank big caps.

Dyah Ayu Kartika

Apr 21, 2022 - 4:58 PM

Data

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melaju ke zona hijau pada akhir perdagangan Kamis (21/4). Hal tersbeut berkat kenaikan harga saham bank-bank dengan kapitalisasi pasar besar atau big caps

IHSG terpantau naik 0,68% atau 48,83 poin ke level harga 7.276,19. Sepanjang perdagangan IHSG sempat mencatatkan posisi tertinggi pada level 7.294,67 dan terendah di 7.245,73. 

Tercatat, 257 saham menguat, 289 saham melemah dan 150 saham lainnya bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar mencapai Rp9.541,47 dengan volume saham yang diperdagangkan sebanyak 20,13 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp17,37 triliun. 

Sektor keuangan menguat paling signifikan dengan kenaikan 1,38%. Posisinya diikuti sektor teknologi yang juga menguat sebesar 1,08%.

Di seluruh pasar, investor asing mencatatkan aksi aksi beli bersih (net buy) senilai Rp1,19 triliun. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dikoleksi asing dengan net buy sebesar Rp418,1 miliar. 

Menyusul di belakangnya adalah saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) dengan net buy senilai Rp269,3 miliar. Kemudian, asing membeli saham PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) dengan net buy sebesar Rp264,73 miliar, 

Saham PT Astra International Tbk. (ASII) juga dikoleksi asing dengan net buy sebesar Rp184,42 miliar.  Sedangkan, asing memborong saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) dengan net buy sebesar Rp156,75 miliar.

Sementara itu, saham PT XL Axiata Tbk. (EXCL) paling banyak dijual asing dengan net sell sebesar Rp37,21 miliar. Selain itu, terdapat saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) dan PT Timah Tbk. (TINS) yang dijual asing dengan net sell masing-masing sebesar Rp24,13 miliar dan Rp18,8 miliar.

Sementara itu, bursa saham Wall Street ditutup variatif.. Hanya Indeks Dow Jones yang menguat 0,71%. Sedangkan, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,06% dan 1,22%.

IMF memprediksi ekonomi dunia hanya mampu tumbuh 3,6% pada 2022. Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebelumnya yang sebesar 3,8%. 

Pada 2023, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh 3,6%. Angka tersebut lebih rendah 0,2% poin dari perkiraan pada Januari 2022 lalu. 

Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi itu terjadi karena perang Rusia-Ukraina yang belum kunjung sleesai. Karena perang tersebut, IMF juga memperkirakan inflasi mencapai 5,7% di negara maju dan 8,7% untuk negara berkembang pada tahun ini.

(Baca: Kenaikan Tujuh Indeks Sektoral Bawa IHSG Rebound ke Atas 7.200)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags