IHSG Tinggalkan 7.200, MEDC dan BUMI Terkoreksi Tajam

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dengan terkoreksi 0,64% atau 46,4 poin ke level 7.186,76 pada perdagangan Rabu (7/9).

Dyah Ayu Kartika

Sep 7, 2022 - 6:30 PM

Data

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dengan koreksi sebesar 0,64% atau 46,4 poin ke level 7.186,76 pada perdagangan Rabu (7/9). Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG cenderung berkutat di zona merah pada rentang harian 7.166,63 hingga level 7.243,52. 

Sektor infrastruktur mengalami pelemahan paling dalam yakni sebesar 1,58%, diikuti sektor energi yang terkoreksi 1,36%. Tercatat ada 200 saham menguat, 329 saham melemah, dan 169 saham stagnan alias tidak ada perubahan. Kapitalisasi pasar turun ke Rp9.420,63 triliun dan volume saham yang ditransaksikan sebanyak 36,3 miliar unit dengan nilai Rp15,36 triliun.

Saham-saham sektor energi yang menyeret IHSG ke zona merah. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) tercatat jatuh paling dalam dengan turun 6,53% atau 65 poin ke level 930. Selanjutnya, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) anjlok 3,7% menjadi 208. Tetapi, BUMI tetap menduduki posisi saham dengan nilai perdagangan tertinggi mencapai Rp1,54 triliun. 

Lalu saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga merosot 2,19% ke level 4.460 dengan nilai perdagangan Rp951,49 miliar. Berikutnya, saham-saham emiten energi lain seperti PGAS, ADRO, BIPI, MDKA, dan HRUM juga melemah masing-masing 3,31%, 0,5%, 3,85%, 3,6% dan 2,43%.

Pergerakan IHSG cenderung tertekan aksi profit taking pada saham-saham energi. Selain itu, pelemahan IHSG terjadi di tengah rilis posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2022 yang tetap tinggi yakni sebesar US$132,2 miliar. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2022 yang juga sebesar 132,2 miliar dolar AS. 

Perkembangan posisi cadangan devisa pada Agustus 2022 antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, penerimaan devisa migas, di tengah kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia juga menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

(Baca: IHSG Bertahan di Zona Hijau, Sektor Energi Beri Dorongan)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags