Masih Tertahan di Zona Merah, IHSG Turun ke 7.036,2

Pada Kamis (29/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah untuk hari kelima secara beruntun. IHSG terkoreksi 0,58% atau 40,83 poin menuju level 7.036,2.

Dyah Ayu Kartika

Sep 29, 2022 - 5:00 PM

Data

Pada Kamis (29/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah, melanjutkan penurunan selama 5 hari perdagangan secara berturut-turut. IHSG terkoreksi 0,58% atau 40,83 poin menuju level 7.036,2. 

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang harian 7.023,21 hingga level 7.135,50. Sektor teknologi mengalami penurunan paling signifikan yakni sebesar 1,95% dan begitu juga sektor transportasi yang terkoreksi 1,60%. 

Tercatat, 149 saham menguat, 423 saham melemah, dan 114 saham lainnya bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar terpantau pada posisi Rp9.271,55 triliun dan volume saham yang diperdagangkan sebanyak 23,84 miliar saham dengan turnover Rp12,68 triliun.

Deretan saham top losers IHSG antara lain PT Link Net Tbk. (LINK) sebesar 7% menuju harga 4.120. Disusul saham PT Black Diamond Resources Tbk. (COAL) dengan pelemahan 6,99% ke 426 dan saham PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk. (KRYA) yang juga turun 6,99% menjadi 266.

Kemudian beberapa saham big caps mengalami pelemahan yang dipimpin oleh saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang tertekan hingga 3,10% menuju level 250. Lalu saham emiten rokok PT H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP) melemah 1,63% ke 905 dan saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) turun 1,46% menjadi 66.000.

Di sisi lain, saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) masih menguat hingga 2,07% menuju posisi 3.950. Diikuti saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) yang naik 0,84% ke 2.410 dan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) terapresiasi 0,6% menuju level 8.375.

Pergerakan IHSG justru berbanding terbalik dengan kinerja bursa saham AS Wall Street yang ditutup menguat dengan Indeks Dow Jones naik 1,88%, Indeks S&P 500 menguat 1,97%, dan Indeks Nasdaq Composite yang memimpin penguatan dengan apresiasi sebesar 2,05%. 

Senada dengan pasar sahamnya, harga obligasi pemerintah AS juga meningkat tecermin dari imbal hasilnya yang menurun. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menurun lebih dari 20 basis poin (bps) setelah sebelumnya menyentuh 4%. Tercatat yield US Treasury 10 tahun turun ke level 3,7%.

Sementara itu, mata uang Rupiah ditutup menguat tipis 3,5 poin atau 0,02% menjadi Rp15.263 per dolar AS. Sedangkan Indeks dolar AS naik 0,83% ke level 113,537.

(Baca: Terkoreksi Empat Hari Beruntun, IHSG Tinggalkan 7.100)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags