Sebanyak Delapan Sektor Melemah, IHSG Berbalik ke Zona Merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertahan di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (14/9) setelah mencetak rekor tertinggi kemarin. Sebanyak delapan sektor menekan indeks komposit.

Haratwadi Handoko

Sep 14, 2022 - 10:28 PM

Data

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertahan di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (14/9) setelah mencetak rekor tertinggi kemarin. IHSG ditutup melemah 0,55% atau 39,94 poin ke level 7.278,08. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 7.219,32 hingga 7.305,65.

Sebanyak delapan sektor menekan indeks komposit. Sektor barang baku melemah paling dalam sebesar 1,22% ke level 1.318,20. Posisinya diikuti sektor perindustrian yang juga turun 1,07% ke level 1.375,56. 

Sedangkan, tiga sektor lainnya masih bertahan di zona hijau. Sektor energi memimpin penguatan sebesar 0,83% ke level 2.080,93.


Sektor Energi

Indeks sektor energi masih bertahan di zona hijau lantaran naik 0,83% atau 17,15 poin ke level 2.080,93 pada akhir perdagangan Rabu (14/9). Indeks menguat setelah bergerak di rentang 2.035,01-2.082,15.

Sejumlah saham yang ikut menopang sektor energi, antara lain PT Indo Straits Tbk. (PTIS) meroket 34,36% atau 67 poin ke level 262, PT Black Diamond Resources Tbk. (COAL) naik 23,68% atau 90 poin ke level 470, dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) menguat 10,11% atau 180 poin ke level 1.960.

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) menargetkan produksi batu bara tembus 2,8 juta ton hingga 3,3 juta ton pada 2022. Investor Relations Adaro Minerals Danuta Komar mengatakan, kinerja operasional perseroan hingga saat ini masih sejalan dengan proyeksi. 

ADMR telah memproduksi 1,5 juta ton batu bara pada paruh pertama tahun ini. Jumlah tersebut naik 7% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy) yang sebanyak 1,43 juta ton. 

Penjualan batu bara ADMR sendiri telah mencapai 1,28 juta ton pada semester I/2022. Angka ini naik 9% dibandingkan pada semester I/2021 yang sebesar 1,17 juta ton. 

Sementara, ADMR mencatatkan volume pengupasan lapisan penutup atau overburden removal sebanyak 3,5 juta bank cubic meter (bcm) pada semester I/2022. Volume tersebut meningkat 14,8% dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,1 juta bcm.

Danuta mengatakan volume pengupasan lapisan yang lebih kecil memungkinkan ADMR dapat menjaga angka strip ratio atau nisbah kupas lebih rendah. Kondisi ini membuat ADMR menjalankan produksi yang lebih efisien. ADMR sendiri menargetkan angka nisbah kupas hingga 2,4 kali untuk tahun 2022. 

Lebih lanjut, ADMR memiliki permintaan pasar atas batu bara yang cukup kuat pada paruh pertama tahun ini. Beberapa negara yang menjadi tujuan penjualan adalah Jepang, Cina, India serta ke pasar domestik.


Sektor Barang Baku

Indeks sektor barang baku paling tertekan hingga 1,22% atau 16,22 poin ke level 1.318,20 pada akhir perdagangan Rabu (14/9). Indeks terjatuh setelah bergerak di rentang 1.306,86-1.334,42.

Sejumlah saham yang ikut menekan sektor barang baku, antara lain PT Alumindo Light Metal Industry Tbk. (ALMI) turun 2,87% atau 10 poin ke level 338, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) melemah 1,98% atau 50 poin ke level 2.480, dan PT Kapuas Prima Coal Tbk. (ZINC) terkoreksi 1,27% atau 1 poin ke level 78.

PT Kapuas Prima Coal Tbk. (ZINC) membukukan penurunan kinerja sepanjang semester I/2022. Penjualan ZINC tercatat turun 18% secara year-on-year (yoy) dari Rp499,94 miliar menjadi Rp411,35 miliar. 

Turunnya penjualan ini membuat ZINC membukukan laba bersih Rp28,27 miliar. Jumlah itu merosot 68% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2021 sebesar Rp89,52 miliar.

Direktur ZINC Evelyne Kioe mengatakan, perseroan akan menggenjot produksi dengan target galena berkadar tinggi pada semester II/2022. Hal itu dilakukan guna mengangkat kembali kinerja perusahaan yang tengah mengalami penurunan laba bersih pada paruh pertama tahun ini.

Dia melanjutkan, awal tahun 2022 cukup menantang karena ekonomi global yang menyusut imbas perang Rusia-Ukraina. Walaupun harga timbal (Pb) dan seng (Zn) sempat meningkat pada kuartal I/2022, koreksi terhadap harga kedua komoditas tersebut kembali terjadi sejak kuartal berikutnya.

Seiring dengan meningkatnya harga komoditas pada kuartal I/2022, mayoritas harga bahan baku minyak, angkutan dan lain-lain juga naik berkali-kali lipat. Ini disebabkan oleh tingginya inflasi dan kelangkaan atas ketersediaan pasokan.

Secara umum, harga timbal dan seng masih tergolong stabil masing-masing di kisaran US$2.160/ton dan US$3.600/ton. Hal ini disebabkan karena masih tingginya permintaan global terhadap kedua komoditas tersebut serta banyaknya smelter di Eropa yang tutup sementara.


Sektor Perindustrian

Indeks sektor perindustrian turut menjadi pemberat utama IHSG dengan ditutup anjlok 1,07% atau 14,84 poin ke level 1.375,56 pada akhir perdagangan Rabu (14/9). Indeks anjlok setelah bergerak di rentang 1.369,78-1.390,4.

Sejumlah saham yang ikut membebani indeks sektor perindustrian, antara lain PT Perdana Bangun Pusaka Tbk. (KONI) turun 6,72% atau 170 poin ke level 2.360, PT Global Mediacom Tbk. (BMTR) melemah 2,11% atau 8 poin ke level 372, dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) merosot 1,02% atau 350 poin ke level 34.000.

Kalangan pengusaha meyakini masyarakat akan tetap berhemat, meski dikucurkan bantuan sosial (bansos) setelah harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, pengusaha sedang melakukan observasi terhadap dua hal terkait dengan efektivitas dana bansos menekan inflasi pada September 2022 dan ketepatan distribusi subsidi itu sendiri. 

Namun, dunia usaha di tanah air sejauh ini masih dalam kondisi baik. Hal itu terindikasi dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang meningkat pada Agustus 2022. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), IKK mencapai 124,7 pada bulan lalu. Angkanya lebih tinggi dibandingkan pada Juli 2022 yang sebesar 123,2.

Para pengusaha tetap meminta pemerintah untuk mengatur prioritas dalam hal pengalokasian anggaran untuk meminimalisir potensi risiko terhadap dunia usaha. Sebab, kontribusi konsumsi rumah tangga sebagai penyangga utama produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II/2022 terpantau hanya 51,47%.

Persentase tersebut mengalami penurunan dari kuartal I/2022 yang mencapai 53,65%. Angkanya pun lebih rendah dibandingkan pada kuartal II/2021 yang sebesar 55,07%.

(Baca: Tinggalkan Rekor Tertinggi, IHSG Berbalik ke Zona Merah)

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags