Profil Retno Marsudi

Retno Lestrari Priansari Marsudi merupakan Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia merupakan wanita pertama yang menjabat sebagai Menlu Indonesia.

Deva Zhalzha Amalia & Cindy Mutia Annur

May 1, 2024 - 9:30 AM

Profil

Retno Lestrari Priansari Marsudi merupakan Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia merupakan wanita pertama yang menjabat sebagai Menlu Indonesia.

Wanita yang akrab disapa dengan Retno Marsudi ini lahir di Semarang, 27 November 1962. Ia merupakan istri dari Agus Marsudi dan ibu dari Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi.

Melansir laman Kemlu.go.id, Retno Marsudi memperoleh gelar Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Gajah Mada pada 1985. Selain itu, ia juga mengambil beberapa program studi lain, yaitu "Undang-Undang Uni Eropa" di Haagse Hogeschool di Denhag dan "Studi Hak Asasi Manusia" di Universitas Oslo.

Perjalanan karier Retno dimulai setahun setelah ia lulus kuliah, dengan mengikuti seleksi beasiswa dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Retno dinyatakan lolos seleksi dan langsung direkrut oleh Kemenlu.

Karier diplomatnya dimulai di Kedutaan Besar Indonesia di Canberra pada 1990-1994. Melansir laman Kompas.com, keinginan Retno untuk menjadi diplomat bermula saat melihat program Dunia dalam Berita yang pada masa itu tayang di TVRI setiap pukul 21.00 WIB.

Tak lama setelah menjadi diplomat di Kedutaan Besar Indonesia di Canbera, Retno dikirim ke Belanda oleh pemerintah Indonesia pada 1997-2001. Ia ditugaskan sebagai sekretaris bidang ekonomi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. 

Setelah itu, istri dari Agus Mursadi ini menjadi Direktur Kerjasama Intra dan Antar Regional Amerika dan Eropa pada 2001-2003. Kemudian, ia menjadi Direktur Eropa Barat hingga 2005.

Pada 2005-2008, Retno diamanahkan menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia. Selanjutnya, menurut laman Alsteindonesia.com, ia dikirim kembali ke tanah air untuk menjadi Direktur Jenderal Eropa dan Amerika yang bertanggung jawab mengawasi hubungan 82 negara di Eropa dan Amerika dengan Indonesia hingga 2012.

Kiprahnya yang cemerlang dilihat dunia dan mengantarkannya meraih penghargaan pertamanya yang berasal dari luar negeri, yakni Norwegia. Retno menerima penghargaan sebagai The Order of Merit (Grand Officer – the Second Highest Decoration) pada Desember 2011.

Melansir laman Viva.com, Retno kembali dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda selama dua tahun, yaitu pada 2012 hingga 2014. Setelah itu, ia diminta untuk kembali ke Jakarta dan membantu presiden terpilih Jokowi pada saat itu untuk menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia periode 2014-2019.

Adapun selama masa jabatan tersebut, Retno banyak menerima penghargaan internasional maupun nasional. Pada 21 September 2017, ia meraih penghargaan Agen Perubahan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan pada United Nations (UN) Women di New York, Amerika Serikat.

Selain itu, kinerjanya sebagai Menteri Luar Negeri juga diapresiasi oleh pemerintah dari negera-negara lain. Pada 24 Mei 2018, Retno menerima penghargaan El Sol del Peru dari pemerintah Peru dan Malalai Medal of Honor dari pemerintah Afghanistan pada 1 Maret 2020. 

Sosoknya yang ceria dan hangat membuatnya banyak dikenal oleh masyarakat di tanah air. Ia pun banyak menerima penghargaan kategori tokoh publik paling populer dan pemimpin terbaik negeri ini.

Berkat kinerja dan prestasi cemerlangnya, Retno Marsudi kembali terpilih menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia di periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi pada 2019-2024. Ia dilantik pada 23 Oktober 2019 bersama dengan para menteri lainnya di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Teranyar, melansir Bisnis.com, Retno kembali diperbincangkan masyarakat usai dirinya melakukan walk out ketika Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat (AS) Gilad Erdan melakukan pidato dalam debat terbuka Dewan Keamanan PBB pada (23/01). Aksi itu dilakukan bersama para diplomat lain yang berasal dari negara-negara Arab lantaran Gilad Erdan terus memberikan pernyataan yang terkesan playing victim terhadap konflik di Gaza, Palestina.

Bagikan Artikel
Terpopuler
Tags