Sejak revolusi industri mulai mendominasi, kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer semakin meningkat sebagai imbas dari pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi. Hal itu membuat suhu rata-rata global meningkat drastis dan terjadi pemanasan global.
Menurut data Dana Moneter Internasional (IMF), tingkat konsentrasi CO2 di atmosfer global telah mencapai 420,99 bagian per juta (part per million/ppm) hingga Mei 2022. Angkanya telah meningkat 11,95% dari dua dekade lalu yang sebesar 375,93 ppm.
Meningkatnya suhu rata-rata global dan kadar CO2 di atmosfer global membuat lapisan ozon menipis. Ozon berfungsi sebagai pelindung bumi terhadap radiasi matahari dan sinar kosmik. Tanpa ada ozon, radiasi sinar matahari bisa merusak kulit dan mata.
Peningkatan suhu rata-rata global juga telah membuat permukaan air laut menjadi naik. Hingga 11 Mei 2022, IMF mencatat permukaan air laut telah meningkat 62,3 milimeter (mm).
Selain itu, peningkatan suhu rata-rata global dan kadar CO2 juga akan meningkatkan jumlah orang yang menderita penyakit hingga kematian. Hal itu disebabkan oleh gelombang panas, banjir, badai, dan kekeringan.
(Baca: Sapi Potong Jadi Penyumbang Jejak Karbon Makanan Terbesar)