Semakin banyak orang di dunia yang menghindari membaca berita. Menurut survei Reuters Institute, persentasenya mengalami kenaikan dari 29% pada 2017 menjadi 38% pada tahun ini.
Ada sejumlah alasan mengapa semakin banyak orang yang menghindari pemberitaan. Sebanyak 43% responden menilai terlalu banyak berita yang memuat tentang politik dan Covid-19.
Kemudian, 36% responden yang menghindari berita karena memperburuk suasana hatinya. Persentase responden yang menghindari berita karena merasa tak bisa dipercaya atau bias dan lelah karena kuantitasnya terlalu banyak sama-sama sebesar 29%.
Sebanyak 17% responden enggan membaca berita karena menghindari perdebatan. Sementara, sebanyak 16% responden menghindari berita karena bingung merespons seluruh informasi yang diterimanya.
Adapun, Reuters Institute melakukan survei ini secara daring kepada 64.120 responden yang tersebar di 46 negara. Survei dilakukan pada akhir Januari hingga awal Februari 2022.
(Baca: 8 Negara Ini Paling Khawatir Berita Bohong, Ada Indonesia?)